PeristiwaSumbarViral

Korban Banjir Bandang dan Longsor Terus Bertambah di Pesisir Selatan, Ini Identitasnya

26
×

Korban Banjir Bandang dan Longsor Terus Bertambah di Pesisir Selatan, Ini Identitasnya

Sebarkan artikel ini

Pesisir Selatan, hantaran.co – Korban tewas akibat banjir bandang dan longsor di Pesisir Selatan terus bertambah. Terbaru, korban banjir bandang Kampung Langgai, Kenagarian Gantiang Mudiak Utara Surantih, Kecamatan Sutera kembali ditemukan.

Kapolsek Sutera, AKP Andi Yanuardi melalui Bhabinkamtibmas, Bripka Rifman Hendra menyampaikan hingga Sabtu 9 Maret 2024 pukul 14.00 WIB, korban meninggal berjumlah 7 orang.

Adapun identitas korban yang sudah ditemukan yakni:

1. Isum, laki-laki (25)

2. Fajra, laki-laki (29)

3. Mira, perempuan (24)

4. Hafip, bocah laki-laki (1)

5. Fifi, perempuan (24)

Baca Juga  Ribuan Masyarakat Pesisir Selatan Ramaikan Car Free Day di Desa Wisata Amping Parak Sutera

6. Siir, laki-laki (45)

7. Siis, perempuan (50)

Sementara itu yang belum ditemukan sebanyak tiga orang yakni,

1. Idep, laki-laki (27)

2. Sara, bocah perempuan (5)

3. Batal, laki-laki (56)

Ia mengatakan, hingga kini pencarian masih berlangsung bersama tim gabungan BPBD Pessel dan Basarnas Provinsi Bengkulu dibantu masyarakat setempat.

Sementara akses jalan ke Langgai masih putus total akibat jalan terban di Kampung Kayu Aro sepanjang lebih kurang 150 meter tepatnya sebelum SD 21 Kayu Aro.

Saat ini hanya bisa dilewati dengan kendaraan roda dua melewati jalan darurat sebagai jalur alternatif.

Baca Juga  Pariaman Komitmen Jaga Stabilitas Keuangan

“Hingga kini jalan menuju Kampung Langgai masih banyak ditemukan titik longsor yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua jenis trail. Selanjutnya untuk menuju lokasi korban hilang tertimpa longsor harus berjalan kaki lebih kurang dua kilometer,” kata Bripka Rifman Hendra.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk melakukan proses pencarian korban hilang tertimpa longsor harus menggunakan alat berat di lokasi.

Begitupun masyarakat setempat memerlukan bantuan dikarenakan ketersediaan sembako sudah mulai menipis, termasuk pakaian, selimut, dan air bersih.