Opini

2025 dan Air yang Tak Pernah Netral, Refleksi Marxian atas Bencana di Sumatera Barat

1
×

2025 dan Air yang Tak Pernah Netral, Refleksi Marxian atas Bencana di Sumatera Barat

Sebarkan artikel ini
2025
ElDias

Oleh : ElDias
(Pemerhati Masalah Sosial)

Tahun 2025, Sumatera Barat kembali basah. Bukan oleh hujan yang membawa kesuburan, melainkan oleh air yang datang berlebihan. Bukan oleh air yang menenangkan, melainkan air yang datang tergesa, melampaui sungai, menembus rumah, dan menyisakan lumpur di ruang-ruang paling personal bagi kehidupan manusia.

Banjir, longsor, dan bencana hidrometeorologi lain hadir berulang, seolah menjadi penanda waktu baru musim hujan tak lagi sekadar musim, melainkan peristiwa sosial yang terus menuntut korban. Hujan membuat air meluap dari sungai, merobohkan tebing, menyelinap ke rumah rumah, kantor dan sekolah. Bencana datang lagi, dan seperti biasa, kita terkejut sebentar, lalu perlahan terbiasa.

Padahal, bagi masyarakat Minangkabau, alam bukanlah sesuatu yang asing. Sejak lama, ia hadir dalam petatah-petitih, dalam cara orang membaca tanda-tanda, dalam falsafah alam takambang jadi guru. Namun entah sejak kapan, guru itu berhenti didengar. Alam masih berbicara, tapi kita terlalu sibuk berbicara tentang pembangunan.

BACA JUGA  Peran Krusial Hukum Administrasi Negara

Di tengah liputan yang cepat, angka kerugian, dan rutinitas bantuan darurat, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan sungguh-sungguh, mengapa bencana ini terus berulang, dan mengapa ia selalu menemukan korban di tempat yang sama? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya dengan cuaca ekstrem atau perubahan iklim global. Ia menuntut kita melihat lebih dalam pada struktur, relasi kuasa, dan cara kita memandang alam dalam proses pembangunan.

Baca juga : Benny Utama Jenguk Korban Penganiayaan di Rao, Minta Kasus Ditangani Serius dan Transparan

Banjir dan longsor akhir-akhir ini seolah menjadi kalender baru, bukan peristiwa luar biasa, melainkan rutinitas tahunan. Dan di balik setiap rutinitas, selalu ada sistem yang bekerja diam-diam.

BACA JUGA  Bung Begal Ambil Alih Kerja Preman, Picu Kota Intoleran?

Dalam kerangka Marxian, alam tidak pernah berdiri netral. Ia selalu berada dalam relasi dengan cara produksi manusia. Bencana, dengan demikian, bukan semata peristiwa alam, melainkan gejala dari hubungan yang timpang antara manusia, negara, dan lingkungan.

Alam dalam Logika Produksi
Dalam cara pandang pembangunan modern, alam sering kali diperlakukan seperti laporan keuangan. Ia dihitung, dipetakan, lalu diputuskan. Hutan diubah menjadi luasan hektare, sungai menjadi garis biru di peta tata ruang, bukit menjadi zona kuning atau merah, lalu setelah itu, izin berjalan.

Karl Marx pernah menulis bahwa kapitalisme menciptakan metabolic rift retakan metabolik antara manusia dan alam. Dalam logika produksi yang mengejar akumulasi, alam direduksi menjadi sumber daya hutan menjadi kayu, tanah menjadi komoditas, sungai menjadi saluran. Relasi ekologis yang kompleks disederhanakan demi efisiensi ekonomi.