Jepang, hantaran.Co–Ada salah satu fakta menarik yang diketahui wartawan Harian Haluan saat mengunjungi Hokkaido, Jepang pada Desember 2025 lalu. Ternyata jumlah penganut agama di Jepang melebihi total populasi penduduknya.
Informasi itu didapat saat Haluan beserta 16 jurnalis peserta Japan East Asia Network of Exchange for Students and Youth (Jenesys) 2025 berkesempatan mengikuti salah satu kelas di sekolah Katolik perempuan di Sapporo, Hokkaido, yakni Fuji Women’s University.
Pada kesempatan itu, dosen muda asal Finlandia yang sudah hampir satu dekade tinggal di Jepang, Mia Tillonen menjelaskan sejarah dan perkembangan kepercayaan masyarakat Jepang.
Baca Juga : Lokasi Penganiayaan Nenek Saudah Dekat PETI dan Polsek, Walhi : Negara Absen Lindungi Rakyat
Mia mengatakan, banyak warga Jepang mempraktikkan sinkretisme, yaitu menggabungkan unsur-unsur dari beberapa agama secara bersamaan. Badan Urusan Budaya Jepang mencatat jumlah penganut agama di Jepang mencapai 172,2 juta penduduk. Hal ini unik, sebab jumlah penduduk Jepang hanya 124,35 juta penduduk.
“Hal itu membuat satu orang bisa tercatat pada dua organisasi keagamaan sekaligus,” tutur wanita yang menyelesaikan gelar sarjana dan master di Finlandia dengan fokus pada Studi Asia Timur bahasa dan budaya Jepang sebelum akhirnya pindah ke Hokkaido untuk melanjutkan penelitian di bidang pariwisata.
Data menunjukkan persentase gabungan penganut Shinto dan Buddha sangat tinggi, dengan Shinto dan Buddha masing-masing dianut oleh hampir separuh penduduk (sekitar 48 persen dan 47 persen), meskipun banyak yang tidak menganggapnya sebagai agama formal. Di sisi lain, Katolik dan Protestan hanya sekitar 1 persen, sedangkan Islam dan agama-agama lainnya 4 persen.
“Shinto asli Jepang, kamu tidak akan menemukannya di tempat lain. Shinto ini bersifat politeistik, jadi pada dasarnya percaya pada banyak dewa. Mereka disebut Kami dalam bahasa Jepang,” kata Mia.
Agama ini sangat berorientasi pada tempat dan praktik, dan tidak memiliki pendiri atau kitab suci yang harus diikuti oleh para pengikutnya. Pusat praktiknya adalah kuil-kuil Shinto, sehingga sangat berorientasi pada tempat.
Sedangkan Buddhisme, di sisi lain, berasal dari Tiongkok ke Jepang, dan telah dipraktikkan sejak abad ke-6. Di Jepang, Buddhisme kemudian berkembang menjadi berbagai sekte yang memiliki doktrin dan ajaran masing-masing.
“Dibandingkan dengan Shinto, Buddha lebih seperti filsafat, semacam agama intelektual, sedangkan Shinto lebih menekankan tempat dan praktik sebagai pusat agama,” katanya.
Lebih lanjut Mia yang baru saja meraih gelar Ph.D menyampaikan banyak orang di Jepang berpartisipasi dalam ritual dan upacara, baik Shinto maupun Buddha sekaligus. Meskipun demikian, mereka mungkin tidak menganggap diri mereka religius dalam arti afiliasi atau keyakinan.
“Yang membuat hal ini semakin membingungkan adalah ketika orang Jepang ditanya tentang agama mereka, mereka biasanya mengatakan bahwa mereka tidak memiliki,” tuturnya.
Agama Shinto dan Buddha Tidak Dipilih Secara Eksklusif
Menurut Mia, ketika berkaitan dengan Shinto dan Buddha, orang Jepang umumnya tidak memilih salah satu di antaranya secara eksklusif. Keduanya memiliki waktu dan tempat dalam kehidupan seseorang.
Shinto, misalnya, berkaitan dengan peristiwa kehidupan. Ketika bayi lahir, mereka dibawa ke kuil Shinto. Ketika mereka berusia tiga, lima, dan tujuh tahun, anak-anak sering pergi ke upacara-upacara ini di kuil.
Pernikahan juga sering berlangsung di kuil-kuil ini. Shinto juga memiliki banyak ritual dan festival tahunan. Buddhisme, di sisi lain, memiliki peran tradisional dalam mengurus upacara pemakaman. Namun, banyak orang mengunjungi kuil dan tempat suci dalam konteks pariwisata. Dalam konteks karakter budaya seperti ini, Katolik yang umumnya menuntut eksklusivitas penyembahan pada satu tuhan tidak begitu populer di Jepang.
Meski begitu, masyarakat Jepang tidak begitu mempermasalahkan identitas agama sebuah institusi pendidikan ketika hendak memilih tempat belajar. Di tengah masyarakat Jepang yang kerap mengaku “tidak beragama”, keberadaan Fuji Women’s University mengambil perannya sendiri. Sekolah Katolik ini hadir dalam bentuk kontribusi nyata di bidang pendidikan, khususnya pendidikan perempuan, yang terus bertahan selama satu abad.
“Mayoritas kepercayaan di Jepang adalah Shinto dan Buddha, di mana banyak penduduknya menganut keduanya secara bersamaan dan praktik keagamaan sering kali bercampur dengan tradisi budaya, bukan mengidentifikasi diri secara eksklusif pada satu agama,” katanya.
Di sisi lain, meskipunIslam di Jepang merupakan minoritas, namun dari pantauan Haluan selama berada di Jepang, nilai-nilai ajaran Islam seperti kebersihan, ketertiban, kejujuran seperti sudah mendarah daging pada budaya masyarakat Jepang. Jepang sendiri memiliki sekitar 80 ribu kuil. Setiap kuil memiliki spesialisasi doa untuk kesehatan, cinta, bisnis, hingga keberuntungan akademik.
Sekilas penjelasan di Fuji Women’s University menjelaskan bagaimana budaya hingga kepercayaan masyarakat Jepang menarik untuk dipahami.





