Opini

Mengapa Murid Takut Bertanya?

0
×

Mengapa Murid Takut Bertanya?

Sebarkan artikel ini
Murid

Proses Belajar Mengajar (PBM) tidak akan luput dari sesi tanya jawab di dalamnya. Saat seorang guru baru saja menyelesaikan penjelasan panjang tentang satu materi, diharapkan adanya umpan balik dari murid.

Ketika pertanyaan klasik dilemparkan, “Apakah ananda ada yang ingin bertanya?”, suasana ruangan kelas mendadak beku. Tidak ada tangan yang teracung. Bukan karena mereka semua sudah paham, melainkan ada sekat kasat mata yang membungkam pita suara mereka.

Fenomena murid yang “diam” atau terlihat “malas” bertanya bukanlah sekadar masalah rendahnya literasi atau kurangnya asupan gizi. Di balik kebungkaman itu, bersemayam sebuah virus yang sudah menjadi budaya, tanpa sadar kita pelihara selama berabad-abad, yaitu budaya Feodal.

Baca Juga : Pendekatan Pembelajaran Mendalam bagi Pendidik dan Murid

Feodalisme dalam dunia pendidikan kita bermanifestasi dalam bentuk pengagungan status di atas rasionalitas. Di ruang kelas, seringkali “Siapa yang bicara” jauh lebih dianggap penting daripada “Apa yang dibicarakan”.

Ketika seorang murid mencoba menyanggah atau mempertanyakan sebuah premis, mereka sering kali terbentur tembok tebal berupa kalimat-kalimat pemutus nalar. “Saya lebih tua,” “Saya gurunya.”kalimat itu adalah senjata pemusnah nalar kritis anak bangsa.

Baca Juga  IPM & IMM: Cermin Ganda Membongkar Tabir Ilusi Kesejahteraan

Jika lingkaran kebungkaman terus dibiarkan, budaya ini menciptakan siklus yang tidak akan pernah putus. Anak yang hari ini dibungkam di dalam kelas, besok akan tumbuh menjadi orang tua atau pemimpin yang membungkam bawahannya.

Mereka tidak belajar cara berargumen secara sehat, mereka hanya belajar cara berkuasa dengan senioritas. Efeknya tentu sangat fatal bagi masa depan bangsa. Jika nalar kritis telah dimatikan sejak di bangku sekolah, kita tidak akan pernah menjadi bangsa innovator, melainkan hanya bangsa pengikut.

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memutus rantai feodalisme dalam dunia pendidikan. Pertama, percaya pada prinsip bahwa semua orang setara di hadapan kebenaran. Guru bukanlah sumber tunggal ilmu pengetahuan, melainkan fasilitator.

Pola pikir guru harus bergeser dari “Saya tahu segalanya” menjadi “Mari kita cari tahu bersama”. Ketika guru berani mengakui kesalahan di depan murid, itu bukanlah kelemahan, melainkan edukasi tentang kejujuran.

Murid Takut Dihakimi

Kedua, menciptakan ruang aman. Murid malas bertanya seringkali karena mereka takut dihakimi, baik oleh guru maupun teman sebaya. Guru harus mampu mengelola atmosfer kelas. kesalahan adalah bagian dari proses belajar, bukan aib yang harus ditertawakan.

Baca Juga  Pentingnya Membangun Jaringan Politik bagi Calon Anggota Legislatif 2024

Ketiga, memantik rasa ingin tahu. Seaneh apapun pertanyaan murid, harus diapresiasi, sebagai tanda bahwa otak mereka sedang bekerja. Keempat, argumen harus di adu argumen, bukan dengan umur atau gelar. 

 Jika seorang murid memiliki data yang lebih akurat atau logika yang lebih tepat, guru harus memiliki kerendahan hati untuk menerimanya. Inilah esensi dari pendidikan yang memanusiakan manusia.

Kita harus sadar bahwa setiap kali kita membungkam satu pertanyaan kritis dari seorang anak, kita sedang membunuh satu peluang untuk kemajuan bangsa.

Pendidikan bukan tentang mengisi ember kosong dengan air sampai penuh, melainkan tentang menyalakan api yang akan terus berkobar. Sudah saatnya kita membuang jauh-jauh sisa-sisa budaya feodal di ruang kelas.

Mari kita ajarkan anak-anak kita bahwa menghormati guru tidak harus dilakukan dengan cara menelan mentah-mentah semua perkataan mereka. Hormat yang paling tinggi adalah ketika seorang murid mampu berpikir mandiri dan berani mencari kebenaran dengan nalarnya sendiri. (*)

Oleh : RAHMI YULIANI, S.Pd

Guru Bahasa Indonesia SMP N 3 Bukittinggi