DHARMASRAYA, HANTARAN.Co — Di balik sunyi perbatasan Nagari Gunung Medan dan Tabiang Tinggi, sebuah harapan lama warga Jorong Seberang Mimpi perlahan menemukan jalannya. Harapan akan sebuah pandam pekuburan, tempat peristirahatan terakhir yang selama ini hanya hidup dalam doa dan penantian panjang.
Selama bertahun-tahun, ketiadaan Tempat Pemakaman Umum (TPU) menjadi persoalan pelik bagi warga Jorong Seberang Mimpi, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Bukan karena keengganan, melainkan lantaran sulitnya menemukan lahan yang layak, serta persoalan akses jalan yang harus melintasi tanah milik orang lain.
Baca juga : Kadisdik Pasaman Tekankan Penguatan Karakter Peserta Didik di Setiap Jenjang Pendidikan
Namun kini, cahaya mulai terlihat di ujung lorong panjang itu.
“Alhamdulillah, lokasi sudah kita dapatkan dengan membeli tanah salah satu warga Tabiang Tinggi,” ungkap Ketua Pembangunan TPU Seberang Mimpi, Kompol Hendri, Sabtu (17/01/26), di Gunung Medan.
Selangkah Menuju Peristirahatan Terakhir Harapan Warga
Tanah yang dimaksud merupakan bekas persawahan yang telah mengeras, berada di perbatasan Gunung Medan dengan Tabiang Tinggi, dengan luas sekitar satu hektare. Sebuah lokasi yang dinilai cukup representatif untuk dijadikan pandam pekuburan warga.
Rencana pembangunan TPU ini sejatinya bukanlah wacana baru. Gagasan tersebut telah lama mengendap, seiring kegelisahan warga yang kerap kesulitan saat harus memakamkan anggota keluarga. Untuk mewujudkannya, warga sepakat mengumpulkan dana secara swadaya, minimal Rp50 ribu per kepala keluarga.
Dari gotong royong itulah, terkumpul dana sekitar Rp30 juta. Dana tersebut sempat mengendap hampir dua tahun, menunggu kejelasan lahan yang tepat. Titik balik terjadi beberapa hari lalu, saat Kepala Jorong Seberang Mimpi, Sarino, menggelar silaturahmi awal tahun bersama perangkat jorong. Salah satu topik utama yang dibahas adalah nasib rencana TPU tersebut.
Dari pertemuan itu pula muncul kabar adanya pemilik tanah yang bersedia menjual lahannya. Kesepakatan harga pun dicapai. Kini, tinggal satu persoalan terakhir yang masih menunggu kepastian: akses jalan bagi mobil pengantar jenazah yang harus melintasi tanah milik warga lain.
“Mudah-mudahan semua berjalan lancar. Warga juga sudah siap bergotong royong saat pembangunan TPU nanti,” tutup Kompol Hendri, yang juga menjabat Kabag Ops Polres Solok Selatan.
Bagi warga Seberang Mimpi, TPU bukan sekadar sebidang tanah. Ia adalah simbol kepastian, kemanusiaan, dan penghormatan terakhir. Dan hari ini, harapan itu terasa semakin dekat. (h/mdi)





