DHARMASRAYA, HANTARAN.Co — Aspal hitam yang kini membentang mulus di sejumlah ruas jalan Kabupaten Dharmasraya bukan sekadar hasil proyek pembangunan. Ia adalah simbol harapan, konektivitas, dan masa depan. Namun di balik kemulusan itu, ada tanggung jawab besar yang tak hanya bertumpu pada pemerintah, melainkan juga di pundak masyarakat.
Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga jalan kabupaten yang telah diperbaiki agar tidak cepat rusak. Salah satu ancaman terbesarnya, menurut Annisa, adalah kendaraan dengan muatan berlebih atau over dimension over loading (ODOL).
“Jalan-jalan yang sudah mulus, mari kita jaga bersama. Kalau ada mobil kelebihan muatan atau ODOL, cegah jangan sampai masuk,” ujarnya.
ngan biaya besar tidak dijaga bersama, maka usia jalan tidak akan bertahan lama. Akibatnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Dharmasraya akan terus tersedot hanya untuk perbaikan jalan, sementara banyak kebutuhan pembangunan lain yang juga mendesak.
Menjaga Jalan, Menjaga Masa Depan Ajakan Bupati Annisa
“Kalau tidak dijaga, APBD kita habis untuk jalan saja. Padahal masih banyak yang perlu dibangun dan diperbaiki,” tegas bupati perempuan pertama di Sumatera Barat tersebut.
Annisa bahkan mendorong peran aktif masyarakat di tingkat paling bawah. Menurutnya, ketika menemukan kendaraan ODOL melintas di jalan kabupaten, warga tidak perlu ragu untuk bertindak.
“Kalau perlu, pemuda mencegahnya, perangkat nagari mencegahnya. Kalau tidak, laporkan ke Dishub,” imbuhnya.
Ia mencontohkan ketimpangan yang kerap terjadi di lapangan. Jalan kabupaten yang dirancang hanya untuk kendaraan dengan beban maksimal delapan ton, justru dilintasi truk tronton bermuatan puluhan ton.
“Masa iya mobil tronton bermuatan puluhan ton masuk ke jalan kabupaten,” ujarnya dengan nada prihatin.
Di sisi lain, apresiasi datang dari warga. Angga, salah seorang warga Gunung Medan, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Bupati Annisa atas perhatian terhadap infrastruktur jalan di wilayahnya. Terutama ruas jalan kabupaten dari Simpang Gunung Medan menuju Sitiung, serta Simpang Microwave menuju Blok A Sitiung I.
“Kami berterima kasih karena jalan ini sekarang sudah bagus,” ungkapnya.
Namun Angga juga menyampaikan harapan. Ia menilai, pemerintah daerah perlu memasang portal pembatas serta rambu lalu lintas yang jelas, sebagai penanda bahwa jalan tersebut merupakan jalan kabupaten dengan batas maksimal muatan delapan ton.
“Supaya mobil-mobil bermuatan besar tidak lagi melintas. Ini salah satu solusi,” tutup Angga.
Bagi Dharmasraya, jalan bukan hanya urusan infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan. Menjaganya berarti menjaga keberlanjutan pembangunan itu sendiri. (h/mdi)





