Ekonomi

Membaca Peluang dan Tantangan Ekonomi Sumbar Pascabencana

0
×

Membaca Peluang dan Tantangan Ekonomi Sumbar Pascabencana

Sebarkan artikel ini
ekonomi

Padang, hantaran.Co–Tahun 2026 bakal menjadi tahun yang berat bagi Sumatera Barat (Sumbar). Bencana hidrometeorologi yang melanda pada akhir 2025 lalu telah memberi pukulan besar terhadap berbagai sektor, utamanya sektor ekonomi. Di sisi lain, secarik optimisme diharapkan dapat hadir bersamaan dengan upaya pemulihan pascabencana.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan, sejak tahun 2021, pertumbuhan ekonomi Sumbar lebih rendah dari pertumbuhan nasional. Tahun 2025 diperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumbar berada pada kisaran 3,33-4,13 persen, atau lebih rendah dibanding nasional yang berada pada kisaran 4,7-5,5 persen.

Baca Juga : Seorang Nelayan Hilang Saat Menjaring Ikan di Kawasan Muaro Sunua

Ia menyebut, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar ke depan, diperlukan upaya peningkatan produktivitas sektor tanaman pangan. Bagaimanapun, saat ini sektor pertanian masih ditopang oleh tanaman perkebunan, sementara tanaman pangan justru mengalami penurunan.

“Saat ini, lapangan usaha pertanian meningkat didorong oleh tanaman perkebunan, terutama kelapa sawit, di tengah penurunan tanaman pangan padi,” ujarnya dalam Dialog Ekonomi Sumatera Barat yang digelar di Aula Gedung BI Sumbar, Senin (19/1/2026).

Majid menjelaskan, dari tahun 2019 hingga 2024, sektor tanaman pangan terus mengalami tren mengalami penurunan. Di sisi lain, tanaman perkebunan meningkat menjadi penyumbang utama sektor pertanian.

“Tanaman pangan pada 2019 berkontribusi 38,11 persen, namun terus menurun setiap tahun, hingga tahun 2024 hanya 31,68 persen. Sementara perkebunan dari 32,44 persen pada 2019 naik menjadi 37,72 persen pada 2024,” katanya.

Kondisi itu juga tercermin dari perbandingan Nilai Tukar Petani (NTP) perkebunan rakyat dan NTP tanaman pangan. NTP tanaman pangan melandai pada angka 105,26. Sedangkan NTP perkebunan rakyat berada pada angka 148,61.

Di lain pihak, menurunnya luas panen padi di tengah belum optimalnya produktivitas lahan turut menekan angka produksi padi di Sumbar dari tahun ke tahun. Tahun 2019 tercatat luas panen padi sebsar 311.671 hektare. Akan tetapi, pada tahun 2025 berkurang menjadi 283.819 hektare dengan rerata produktivitas 4,81 ton per hektare. Produksi gabah kering giling (GKG) pada tahun 2019 tercatat 1.482.996 ton, namun pada tahun 2025 hanya 1.366.176 ton.

Selain sektor pertanian, komponen lapangan usaha yang turut melambat pada tahun 2025 adalah konstruksi, transportasi, dan pergudangan. Tahun 2025 komponen lapangan usaha konstruksi memberikan kontribusi terhadap PDRB sebesar 9,61 persen, turun dibanding tahun 2024 yang masih berkontribusi 10,08 persen. Transportasi dan pergudangan turun dari 11,11 persen pada 2024 menjadi 10,89 persen pada 2025.

Tahun 2026 Ekonomi Sumbar Diprediksi Meningkat

Majid mengungkapkan optimisme bahwa pada tahun 2026 pertumbuhan ekonomi Sumbar akan meningkat pada rentang 3,84-4,6 persen year-on-year (y-on-y). Hal itu terutama dari menguatnya permintaan domestik serta peningkatan investasi seiring dengan proses pembangunan Flyover Sitinjau Lauik.

“Meski demikian, terdapat potential risk yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih rendah, terutama apabila pemulihan ekonomi pascabencana tidak dilakukan secara cepat,” katanya.

Ia menegaskan, dengan kondisi tersebut, diperlukan upaya ekstra dalam hal mencari sumber pertumbuhan dari lapangan usaha non-tradisional sebagai penyumbang ekonomi saat ini, mengingat target 7 persen belum pernah dicapai dalam 10 tahun terakhir.

Pemerintah pusat juga menargetkan pertumbuhan ekonomi Sumbar terus meningkat dari 5,7 persen pada 2026 menjadi 7,3 persen pada 2029. Beberapa contoh lapangan usaha non-tradisional seperti jasa kesehatan, industri data center, serta pembangkit energi terbarukan diharapkan dapat menjadi pendorong.

“Akselerasi pemulihan ekonomi pascabencana menjadi penting untuk memastikan roda ekonomi dan aktivitas sektor riil dapat berjalan. Di sisi lain, terdapat tekanan inflasi baik dari global maupun domestik yang perlu diwaspadai,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Sumbar, Buchari Bachter menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Sumbar sepanjang 2025 menunjukkan tren perlambatan. Pada triwulan I 2025 ekonomi tumbuh 4,66 persen, kemudian menurun pada triwulan II menjadi 3,94 persen, dan kembali melemah pada triwulan III menjadi 3,36 persen.

“Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain menurunnya konsumsi masyarakat, lemahnya daya beli, serta dampak bencana alam pada akhir tahun yang turut memengaruhi sektor pariwisata dan distribusi logistik. Kondisi ini pun menekan kinerja sejumlah sektor unggulan daerah,” kata Buchari.

Namun, beberapa sektor masih menjadi penopang ekonomi daerah. Pada 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi motor pertumbuhan, disusul industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, serta sektor jasa lainnya yang mencatat pertumbuhan cukup tinggi.

“Dari sisi iklim usaha, UMKM tetap menjadi tulang punggung perekonomian Sumbar. Namun, penyaluran kredit UMKM hingga September 2025 mengalami kontraksi akibat meningkatnya kehati-hatian perbankan, seiring naiknya rasio kredit bermasalah atau non-performing loan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Jalan (KPIJ) Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar, Yulia Rahmadani menjelaskan, kondisi jalan nasional di Sumbar hingga semester II 2025 berada pada tingkat kemantapan 85,50 persen.  

“Meski sebagian ruas terdampak bencana alam seperti banjir, longsor, dan pohon tumbang, seluruh jalan nasional saat ini telah kembali fungsional. Melalui sinergi antara pemerintah, BI, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya, Dialog Ekonomi Sumbar diharapkan mampu menjadi landasan perumusan kebijakan yang tepat guna mempercepat pemulihan pascabencana,” kata Yulia.

Tidak hanya itu, ia berharap kegiatan tersebut juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar yang berkelanjutan pada 2026.