Berita

KAHMI Sumbar –FORHATI Pulihkan Sekolah Pascabencana di Batipuah Selatan

17
×

KAHMI Sumbar –FORHATI Pulihkan Sekolah Pascabencana di Batipuah Selatan

Sebarkan artikel ini

Tanahdatar, hantaran.Co— Bencana galodo yang melanda Kecamatan Batipuah Selatan Kabupaten Tanah Datar tidak hanya merusak bangunan sekolah, tetapi juga meninggalkan luka psikologis bagi anak-anak dan keluarga. Menyadari kondisi tersebut, Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Sumatera Barat bersama FORHATI Sumatera Barat menghadirkan Program Sekolah Aman, Siswa Terlindungi sebagai upaya pemulihan psikososial dan penguatan ketangguhan pendidikan pascabencana.

Program tersebut diawali dengan kegiatan Training of Trainers (TOT) Layanan Dukungan Psikososial Pascabencana yang digelar di SMP Negeri 2 Batipuah Selatan pada Jumat (16/1/2026) lalu. Kegiatan tersebut sekaligus menandai terbentuknya Satuan Tugas (Satgas) Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Kecamatan Batipuah Selatan, yang akan menjadi ujung tombak pendampingan psikososial di sekolah-sekolah terdampak.

Baca Juga : Pemko Padang Dukung Persiapan Haji 1447 Hijriah

Presidium MW KAHMI Sumatera Barat, Desrio Putra, mengatakan bahwa pemulihan pascabencana tidak dapat berhenti pada pembangunan kembali sarana fisik. Menurutnya, sekolah harus kembali menjadi ruang aman yang mampu memulihkan rasa percaya diri dan kenyamanan belajar peserta didik.

“Membangun gedung sekolah memang penting, tetapi itu belum cukup. Anak-anak yang mengalami bencana membutuhkan ruang aman untuk pulih secara psikologis. Sekolah harus hadir bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang perlindungan dan pemulihan bagi mereka,” ujar Presedium MW KAHMI Sumatera Barat Desrio Putra, Rabu (21/1/202).

Kegiatan tersebut, katanya diikuti oleh guru-guru jenjang TK, SD, hingga SMP/MTs dari dua nagari yang paling terdampak galodo. Para guru tidak hanya dibekali pemahaman teoritis, tetapi juga dilatih keterampilan praktis untuk melakukan pendampingan psikososial dan pengurangan risiko bencana secara berkelanjutan di sekolah masing-masing.

Pelatihan difasilitasi oleh Tim Fasilitasi Satgas MW KAHMI Sumatera Barat yang terdiri dari Wanda Fitri, Fikon, Chitra Puspitahati, Fitri Yanti, Tanti Endang Lestari, Eka Vidya Putra, dan Hasan Basri. Melalui metode partisipatif dan praktik langsung, guru dipersiapkan menjadi pendamping pertama bagi peserta didik yang mengalami tekanan emosional pascabencana.

Selain menyasar sekolah, kata Desrio, program tersebut juga melibatkan keluarga sebagai lingkungan terdekat anak. Melalui Sosialisasi dan Edukasi Psychological First Aid (PFA), sebanyak 67 orang tua dan wali murid dari 15 sekolah dibekali pemahaman tentang cara mendampingi anak secara empatik dan suportif di rumah.