Opini

Pelajaran Perjalanan di Sydney

4
×

Pelajaran Perjalanan di Sydney

Sebarkan artikel ini
pelajaran


Perjalanan saya selama sepekan di Sydney, Australia, menjelang akhir tahun, menjadi pengalaman yang tidak hanya berkesan secara personal, tetapi juga kaya akan pelajaran hidup. Kunjungan ini awalnya mungkin dipahami sebagai perjalanan biasa, namun seiring waktu, Sydney menghadirkan banyak cermin refleksi tentang bagaimana sebuah kota dan masyarakat dapat dikelola secara lebih manusiawi, tertib dan berkeadilan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan secara berlebihan antara Sydney dan Indonesia, apalagi menempatkan salah satu sebagai yang paling unggul. Sebaliknya, pengalaman ini ingin dibagikan sebagai bahan renungan bersama, khususnya bagi kita di Indonesia dan lebih khusu lagi di Sumatera Barat, tentang hal-hal apa saja yang dapat dipelajari, dicontoh, atau setidaknya diadaptasi sesuai dengan konteks sosial dan budaya kita sendiri.

Kota Pejalan Kaki

Salah satu pelajaran paling mencolok selama berada di Sydney adalah kuatnya budaya berjalan kaki terutama di pusat kota. Di kota ini, berjalan kaki bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian utama dari sistem transportasi. Trotoar tersedia luas, bersih, rata dan aman. Hampir di setiap sudut kota, pejalan kaki menjadi aktor utama ruang publik. Masyarakat terbiasa berjalan dari rumah ke halte, dari kantor ke pusat perbelanjaan, atau sekadar berjalan santai menikmati kota. Anak-anak, orang tua, hingga penyandang disabilitas dapat menggunakan trotoar dengan nyaman. Kota seolah dirancang dengan asumsi bahwa manusia akan berjalan, bukan sebaliknya, manusia yang dipaksa menyesuaikan diri dengan kendaraan.

Baca Juga : Telkom Pegang Kunci Fondasi Digital Nasional

Pelajaran penting dari sini adalah bahwa kota yang ramah pejalan kaki mencerminkan kota yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Di banyak kota di Indonesia, termasuk di Sumatera Barat, trotoar sering kali sempit, rusak, bahkan beralih fungsi. Padahal, membangun budaya berjalan kaki berarti membangun kota yang lebih sehat, ramah lingkungan dan inklusif.

Lalu Lintas Tertib

Budaya berjalan kaki tersebut berjalan seiring dengan lalu lintas yang tertib. Selama berada di Sydney, hampir tidak terdengar suara klakson yang saling bersahutan. Pengendara mematuhi rambu lalu lintas dengan kesadaran, bukan karena ketakutan semata terhadap sanksi. Pejalan kaki benar-benar dihormati. Kendaraan akan berhenti ketika lampu penyeberangan menyala, bahkan tanpa harus ada petugas yang mengawasi. Tidak ada sikap tergesa-gesa yang mengorbankan keselamatan orang lain. Ketertiban ini mencerminkan kedewasaan sosial bahwa keselamatan dan kenyamanan bersama lebih penting daripada kepentingan pribadi. Pelajaran ini relevan bagi kita, karena lalu lintas bukan sekadar persoalan teknis, tetapi cerminan budaya. Ketertiban tidak hanya dibangun lewat aturan, tetapi lewat pendidikan, keteladanan dan kesadaran kolektif.

Memanusiakan Manusia

Hal lain yang sangat terasa di Sydney adalah bagaimana kota ini berupaya memanusiakan manusia. Ruang publik dirancang untuk melayani kebutuhan warga, bukan untuk mengesampingkan mereka. Taman kota mudah diakses, bersih dan aman. Toilet umum tersedia dan terawat. Halte transportasi publik nyaman dan informatif. Setiap orang diperlakukan setara di ruang publik. Tidak ada pembedaan berdasarkan status sosial, penampilan, atau latar belakang. Kota hadir sebagai ruang bersama, bukan sebagai arena kompetisi yang menyingkirkan kelompok tertentu. Prinsip memanusiakan manusia ini seharusnya menjadi fondasi pembangunan kota di mana pun. Ketika warga merasa dihargai, mereka akan lebih peduli terhadap kota dan lingkungan sekitarnya.

Menghargai Profesi

Pengalaman menarik lainnya adalah budaya menghargai setiap profesi. Di Sydney, petugas kebersihan, pekerja konstruksi, pelayan kafe, sopir, hingga pekerja sektor informal menjalankan tugasnya dengan penuh martabat. Mereka diperlakukan dengan hormat oleh masyarakat sekitar. Tidak ada profesi yang dianggap rendah dan semua pekerjaan dipandang sebagai bagian penting dari roda kehidupan kota. Tanpa petugas kebersihan, kota tidak akan bersih dan tanpa sopir dan operator transportasi, mobilitas akan terganggu. Pelajaran ini sangat penting bagi kita. Menghargai profesi berarti menghargai kerja keras dan martabat manusia. Budaya saling menghormati inilah yang memperkuat kohesi sosial.

Work-Life Balance

Sydney juga mengajarkan makna penting keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi. Masyarakat bekerja dengan disiplin dan profesional, namun tidak menjadikan pekerjaan sebagai satu-satunya pusat kehidupan. Setelah jam kerja, taman, jalur pejalan kaki dan ruang publik dipenuhi warga yang berolahraga, berjalan santai, atau berkumpul bersama keluarga. Keseimbangan ini menciptakan masyarakat yang lebih sehat secara fisik dan mental. Produktivitas tidak diukur dari lamanya bekerja, tetapi dari kualitas hasil kerja. Budaya ini mengurangi stres, memperkuat hubungan keluarga dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Di tengah tuntutan ekonomi dan tekanan hidup, pelajaran tentang work-life balance menjadi sangat relevan bagi masyarakat Indonesia.