Di tengah derasnya arus perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS), manusia modern dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: ke mana arah kemajuan ini akan dibawa? Apakah IPTEKS sekadar menjadi alat pemuas kebutuhan material, atau justru menjelma kekuatan yang menggerus nilai, etika, dan spiritualitas manusia? Dalam konteks inilah, diskursus mengenai interrelasi antara kebenaran Al-Qur’an dan IPTEKS menemukan relevansinya kembali.
Selama ini, relasi agama dan sains kerap diposisikan secara dikotomis. Agama dipahami sebagai wilayah iman dan moral, sementara sains ditempatkan pada ranah empiris yang bebas nilai. Pandangan ini tidak hanya menyederhanakan persoalan, tetapi juga bertentangan dengan perspektif Islam itu sendiri. Al-Qur’an sejak awal justru menempatkan wahyu dan akal sebagai dua entitas yang saling menguatkan, bukan saling menegasikan.
Baca Juga : Telkom Perkuat Pengembangan Talenta Digital Nasional
Al-Qur’an memperkenalkan dua sumber pengetahuan yang fundamental: ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah firman Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an, yang memberi pedoman nilai, hukum, dan orientasi hidup manusia. Sementara ayat kauniyah adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di alam semesta—langit, bumi, air, tumbuhan, hingga fenomena sosial—yang menunggu untuk dibaca, diteliti, dan dipahami oleh akal manusia.
Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya mengakui keberadaan ayat kauniyah, tetapi secara aktif mendorong manusia untuk mengkajinya. Perintah “membaca” dalam wahyu pertama (QS. Al-‘Alaq: 1–5) tidak berhenti pada teks, melainkan meluas pada realitas. Membaca alam, membaca sejarah, dan membaca kehidupan. Inilah fondasi epistemologis Islam yang menolak pemisahan antara ilmu agama dan ilmu dunia.
Sejarah membuktikan, peradaban Islam tumbuh subur justru ketika integrasi ini dijalankan. Ilmuwan muslim klasik seperti Ibn Sina, Al-Biruni, dan Ibn Al-Haytham tidak melihat kontradiksi antara iman dan sains. Bagi mereka, penelitian ilmiah adalah bagian dari ibadah, dan penemuan ilmiah adalah jalan untuk semakin mengenal kebesaran Sang Pencipta. Sains tidak melahirkan kesombongan, melainkan ketundukan.
Sayangnya, realitas modern sering menunjukkan arah yang berbeda. Kemajuan IPTEKS yang tidak dibingkai oleh nilai spiritual kerap melahirkan krisis multidimensi, kerusakan lingkungan, dehumanisasi teknologi, hingga alienasi manusia dari nilai kemanusiaannya sendiri. Intelektual yang cakap secara teknis, tetapi miskin orientasi etis, justru berpotensi menjadi ancaman bagi peradaban.
IPTEKS Bukanlah Tujuan Akhir
Di sinilah Islam menawarkan paradigma alternatif. IPTEKS dalam perspektif Islam bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mewujudkan kemaslahatan. Penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab moral sebagai khalifah di muka bumi. Alam tidak ditundukkan untuk dieksploitasi secara serakah, tetapi untuk dikelola dengan prinsip keseimbangan dan keberlanjutan sesuai sunnatullah.
Lebih jauh, banyak ayat Al-Qur’an yang ketika dikaji secara mendalam, menunjukkan irisan yang kuat dengan temuan ilmiah modern. Penjelasan tentang proses penciptaan manusia, keteraturan kosmos, hingga hukum sebab-akibat dalam alam, menjadi bukti bahwa wahyu tidak bertentangan dengan sains. Sebaliknya, sains justru sering kali berfungsi sebagai alat konfirmasi atas kebenaran ayat-ayat kauniyah yang telah lebih dahulu diisyaratkan.
Namun penting digarisbawahi, Al-Qur’an bukanlah buku teks sains. Ia adalah kitab petunjuk. Ketika Al-Qur’an berbicara tentang alam, tujuannya bukan semata menjelaskan “bagaimana”, tetapi juga “untuk apa”. Sains menjawab mekanisme, wahyu memberi makna. Ketika keduanya dipadukan, lahirlah pengetahuan yang tidak hanya canggih, tetapi juga bermartabat.
Paradigma pengembangan IPTEKS yang berakar pada nilai-nilai Islam menuntut kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kesadaran transendental. Teknologi tidak boleh dilepaskan dari etika. Inovasi tidak boleh mengorbankan kemanusiaan. Kemajuan tidak boleh menciptakan jurang ketimpangan baru. Inilah pesan moral yang relevan bagi dunia yang sedang mencari arah.
Pada akhirnya, interrelasi antara kebenaran Al-Qur’an dan IPTEKS bukan sekadar wacana teoretis, melainkan kebutuhan peradaban. Di tengah tantangan global yang kompleks, seperti krisis lingkungan, konflik identitas, hingga radikalisme, pendekatan integratif antara wahyu dan ilmu menjadi jalan tengah yang menjanjikan. Ia mengajak manusia untuk maju tanpa kehilangan arah, cerdas tanpa kehilangan nurani. (*)
Oleh:
Dodi Mariandi
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumbar






