Nasional

Inflasi Ramadan dan Idulfitri 2026 Diproyeksikan Berada di Koridor Aman

3
×

Inflasi Ramadan dan Idulfitri 2026 Diproyeksikan Berada di Koridor Aman

Sebarkan artikel ini

Jakarta, hantaran.Co–Tekanan inflasi pada periode Ramadan 2026 hingga Idulfitri 1447 H diproyeksikan tetap berada dalam koridor yang aman. Bank Indonesia (BI) memastikan lonjakan permintaan musiman yang terjadi setiap tahun masih dapat dikelola melalui koordinasi kebijakan yang solid dan stabilitas pasokan pangan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman menegaskan bahwa inflasi Ramadan dan Lebaran tahun ini diperkirakan tetap terkendali dalam kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen, atau berada di rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen. Menurutnya, stabilitas pasokan pangan dan terkendalinya inflasi inti menjadi faktor utama yang menopang proyeksi tersebut.

Baca Juga : 1 Tahun Kepemimpinan Fadly Amran-Maigus Nasir, Komitmen Memberikan Dampak Nyata untuk Kemajuan Padang

Baca Juga  Bencana Sumatera Masih Berstatus Bencana Provinsi

“Kondisi untuk di bulan Ramadan dan Lebaran ini, semuanya masih terjaga. Tapi masih ada dampak daripada administered prices akibat diskon listrik yang terjadi di tahun lalu, sehingga diperkirakan angkanya sedikit di atas 3 persen,” kata Aida dalam rilis yang diterima media ini, Minggu (22/2).

Aida menjelaskan bahwa BI melakukan pemantauan harga secara mingguan untuk memastikan perkembangan inflasi tetap sesuai proyeksi. Sejauh ini, tren harga berbagai komoditas dinilai masih dalam jalur yang terkendali.

“Kami melakukan monitoring mingguan untuk harga-harga semuanya masih dalam kisaran proyeksi dari Bank Indonesia. Jadi mudah-mudahan ini akan terus terjaga sampai dengan bulan Maret,” imbuhnya.

Baca Juga  Calon Jamaah Haji Kloter Padang Mulai Beribadah di Masjid Nabawi

Sementara itu, Gubernur BI, Perry Warjiyo menyatakan bahwa bank sentral akan terus mencermati ruang kebijakan suku bunga dengan mempertimbangkan dinamika global dan data ekonomi terkini. Menurutnya, prospek ekonomi global menunjukkan tren perlambatan dengan tingkat ketidakpastian pasar keuangan yang masih tinggi.

“Saat ini, prospek ekonomi global menunjukkan tren melambat dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tinggi. Tapi stabilitas domestik yang terjaga memberi ruang bagi kebijakan moneter untuk tetap akomodatif secara terukur,” ujarnya.