Ekonomi

Gawat, Nilai Tukar Rupiah Bisa Tembus Rp22 Ribu Per Dolar AS

4
×

Gawat, Nilai Tukar Rupiah Bisa Tembus Rp22 Ribu Per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
nilai

Jakarta, hantaran.co–Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi melemah hingga level Rp22 ribu per dolar AS pada kuartal III-2026. Pelemahan ini disebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bisa melambat hingga sekitar 3% dan bahkan berpotensi masuk ke jurang resesi pada kuartal IV-2026.

“Outlook ke depan, kembali lagi saya ramalkan. Dolar kemungkinan ke 22 ribu di bulan Juli. 17 ribu sudah terjadi ya. Dan di Q3, 22 ribu ramalan saya. Lantas di Q3, bukan tidak mungkin pertumbuhan kita last di 3%, bahkan bisa resesi di Q4,” kata pakar ekonomi, Ferry Latuhihin, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, proyeksi tersebut bukan sekadar spekulasi, melainkan didasarkan pada analisis data dan tren ekonomi yang terjadi saat ini. Ferry juga menilai prospek ekonomi Indonesia ke depan masih menghadapi tekanan yang cukup besar.

Baca Juga : KIP Putuskan Penyetaraan Ijazah Gibran Informasi Terbuka, Kemdikdasmen Wajib Berikan Informasi

Ia menyebut outlook ekonomi nasional saat ini terlihat suram jika melihat berbagai indikator yang berkembang. Di sisi lain, Ferry menyoroti kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai menghadapi keterbatasan anggaran lantaran adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga pemerintah dituntut untuk menentukan prioritas penggunaan anggaran secara lebih selektif.

Baca Juga  Komunikasi Pemasaran Melalui Media Sosial Solusi Jitu bagi UMKM

“Moody’s, S&P, Fitch Ratings sekarang memberikan warning yang lebih dalam lagi, bukan tidak mungkin kita menjadi non-investment grade. Ini baru outlooknya saja yang di-downgrade, belum ratingnya. Nah, kalau itu terjadi, there will be a huge capital flight,” jelas Ferry.

Tekanan Nilai Tukar Rupiah Besar

Ia juga menilai tekanan terhadap nilai tukar Rupiah saat ini cukup besar. Bahkan, menurutnya, tanpa intervensi kuat dari otoritas moneter, pelemahan Rupiah berpotensi terjadi lebih dalam.

“Sekarang saja, kalau nggak BI all out melakukan intervensi, sudah tembus tujuh, kemarin diperdagangkan Rp17.300, di bank-bank, di luar forex market, ya, detail market namanya,” ungkapnya.

Ferry menambahkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dari kondisi domestik. Ia mempertanyakan mengapa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% yang dilaporkan sebelumnya justru diikuti dengan penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat internasional.

Baca Juga  Masih Banyak Pelaku UMKM Tak Bersentuhan dengan Bank, Nevi Zuairina Minta Bank Negara Berkontribusi

Menurutnya, pelemahan Rupiah juga terjadi di tengah kondisi di mana beberapa mata uang negara lain justru menguat terhadap dolar AS. Hal tersebut, kata dia, menunjukkan adanya tekanan pada fundamental ekonomi domestik.

Selain itu, ia menilai dinamika geopolitik global juga dapat memperburuk tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Ia menyinggung konflik yang melibatkan Iran yang berpotensi menambah beban terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Lebih lanjut, Ferry menekankan bahwa kebijakan ekonomi pada dasarnya merupakan soal pilihan di tengah keterbatasan anggaran. Pemerintah, menurutnya, harus menentukan prioritas yang paling optimal dalam penggunaan anggaran negara.

“Yang namanya ekonomi, it is a matter of choice. Kita punya budget constraint, nggak bisa enak-enak membeli ini dan membeli itu, membiayai ini dan membiayai itu, semua ada constraint-nya. Dalam budget constraint itu kita harus memilih yang optimal,” jelas Ferry.