“Di tahun 2025, Polda Sumbar mencetak 305 orang untuk pendidikan Polri, serta 170 orang Tamtama. Alhamdulillah, seluruh proses berjalan tanpa permasalahan,” ucap Irjen Pol Gatot Tri Suryanta.
Ia menegaskan, seluruh tahapan seleksi dilaksanakan dengan prinsip BETAH atau Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis. Tidak ada ruang bagi praktik percaloan, pungutan, ataupun transaksi gelap.
“Kami ingin betul-betul calon anggota Polri tidak ada lagi yang membayar. Dengan begitu, setelah menjadi anggota, mereka tidak terbebani dan tidak terdorong melakukan pelanggaran yang merugikan institusi,” ucapnya.
Kapolda bahkan menegaskan, selama proses penerimaan Polri di Sumatera Barat, tidak ada satu pun laporan maupun pengaduan yang masuk ke panitia seleksi. Sebuah indikator meningkatnya kepercayaan publik.
Di sisi pelayanan masyarakat, Polda Sumbar terus mendorong program prioritas penguatan kepercayaan publik dengan pendekatan sosial dan kolektif. Di bidang lalu lintas, penindakan kini lebih mengedepankan edukasi dan pencegahan.
“Sekarang tilang tidak lagi manual, sudah menggunakan tilang elektronik. Yang kita dorong adalah kesadaran masyarakat, jangan tertib hanya karena ada polisi di lampu merah,” jelas Irjen Gatot.
Namun sikap persuasif itu tidak berlaku bagi pelanggaran yang meresahkan publik. Kapolda menegaskan, perang terhadap balap liar dan tawuran akan terus dilanjutkan tanpa kompromi.
“Balap liar dan tawuran ini akan kita pertahankan penindakannya. Kalau bisa, betul-betul zero. Ini kebutuhan masyarakat,” katanya.
Pada kesempatan itu, ia juga menyinggung perubahan signifikan yang kini dirasakan warga. Jika dulu masyarakat takut keluar rumah pada dini hari, kini rasa aman mulai kembali.
“Alhamdulillah, sekarang masyarakat sudah tidak takut lagi keluar jam satu atau dua malam. Karena betul-betul balap liar dan tawuran ini kita putus habis,” pungkasnya. (h/fzi).






