Padang

26.503 Warga Bungus Terancam Jadi Korban Bencana

2
×

26.503 Warga Bungus Terancam Jadi Korban Bencana

Sebarkan artikel ini

Padang, hantaran.Co–Ancaman bencana ekologis serius membayangi Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat mengungkapkan, sedikitnya 26.503 jiwa warga kini hidup dalam kondisi sangat rentan akibat kerusakan kawasan hutan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Timbulun.

Kerusakan lingkungan tersebut tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga keberlanjutan ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat. WALHI mencatat, sekitar 651 hektare sawah milik warga berada dalam risiko tinggi tertimbun material banjir bandang dan longsor yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

BACA JUGA  Dukung Program Vaksinasi Covid-19, Semen Padang Berikan Kaos untuk Warga Pasar

“Ini bukan sekadar ancaman bencana alam, tapi ancaman hilangnya sumber pangan dan ekonomi ribuan keluarga,” ujar Kepala Divisi Penguatan Kelembagaan dan Hukum Lingkungan WALHI Sumbar, Tommy Adam Kamis (1/1/2026).

Baca Juga : Kasus Kejahatan dan Polisi Dipecat di Sumbar pada Tahun 2025 Meningkat

Menurut Tommy, Sawah-sawah yang kini terancam itu selama ini menjadi penopang utama ketahanan pangan lokal Bungus Teluk Kabung. Jika kerusakan lingkungan di wilayah hulu terus dibiarkan, masyarakat tidak hanya menghadapi risiko bencana, tetapi juga potensi kehilangan sumber penghidupan secara permanen.

BACA JUGA  Caleg Nasdem Lisda Hendrajoni Raih Suara Terbanyak di Pesisir Selatan, Alhamdulillah Tarimokasih Dunsanak!

WALHI menegaskan, ancaman ekologis yang kini dihadapi Bungus Teluk Kabung bukanlah peristiwa alam semata. Kerusakan hutan di wilayah hulu DAS Timbulun disebut sebagai dampak langsung dari perambahan kawasan hutan dan hutan penyangga yang telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Alih fungsi tersebut menghilangkan peran strategis hutan sebagai penyerap air, pengendali erosi, dan penjaga keseimbangan ekosistem. Akibatnya, daya dukung lingkungan terus menurun, sementara risiko banjir dan longsor justru meningkat dari tahun ke tahun.