Ekonomi

Perekonomian Sumbar Tahun 2026 Penuh Tantangan Berlapis

5
×

Perekonomian Sumbar Tahun 2026 Penuh Tantangan Berlapis

Sebarkan artikel ini
desember

Kondisi tersebut kian diperberat oleh bencana alam yang terjadi akhir tahun lalu, yang ampaknya diperkirakan akan mengoreksi laju pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Kondisi ini, membutuhkan waktu dan biaya besar untuk pemulihan.

Secara keseluruhan, ia memperkirakan kerugian ekonomi akibat banjir dan longsor mencapai lebih dari Rp5 triliun, di mana sekitar 64 persennya berupa kerusakan sarana dan prasarana. Perkiraan ini  masih berpotensi meningkat seiring pendalaman data kerusakan yang sampai saat ini masih terus dilakukan.

Menghadapi situasi ini, Prof. Elfindri mengkritisi ketergantungan berlebihan pada mekanisme pasar maupun negara. Ia mengingatkan bahwa teori invisible hand ala Adam Smith tidak selalu mampu menjamin keadilan, sementara peran negara pun sering terhambat oleh rentang kendali kebijakan, prosedur birokrasi, keterbatasan informasi, serta kepentingan politik dan pencitraan.

Dalam kondisi tidak normal seperti bencana, ia mempertanyakan siapa yang paling cepat dan efektif hadir di lokasi untuk menyediakan barang dan jasa secara langsung. Jawabannya adalah kombinasi kekuatan, bukan memilih salah satu.

BACA JUGA  IndiHome Hadirkan Hiburan Korea dan Asia Terbaik Bersama Viu

“Pemulihan Sumbar memerlukan double gardan. Mendorong investasi otonom melalui APBN dan APBD, sekaligus menggerakkan investasi terinduksi dari ormas, NGO, dan perantau,” katanya.

Ia menilai organisasi masyarakat dan jaringan perantau memiliki peran strategis dalam menghasilkan induced investment. Kelompok-kelompok berbasis agama, budaya, kemanusiaan, dan kekerabatan terbukti memiliki ketulusan dan kecepatan dalam mengorganisir sumber daya saat bencana. Ia mencontohkan peran organisasi keagamaan dan jejaring sosial yang tidak bergantung pada pajak maupun motif keuntungan ekonomi.

Ke depan, ia mengusulkan beberapa titik kerja utama pemulihan ekonomi Sumbar. Pertama, mendorong sektor agrobisnis dan agromarin serta UMKM berbasis sumber daya pertanian, laut, dan budaya, yang menopang kebutuhan lokal, pariwisata, dan perdagangan antardaerah.

Kedua, percepatan rekonstruksi infrastruktur dengan dukungan penuh sumber daya lokal. Ia menyarankan keterlibatan TNI dalam pembangunan jembatan, serta optimalisasi peran PT Semen Padang.

BACA JUGA  Renungan Ekonomi Sumatera Barat

Tidak hanya sebagai pemasok semen untuk proyek strategis seperti Fly Over Sitinjau Lauik dan Tol Sicincin–Bukittinggi, tetapi juga sebagai motor diversifikasi produk turunan semen yang mendorong industri hilir dan hulu selama lima tahun ke depan.

Ketiga, penguatan ekonomi rakyat berbasis masjid. Menurut Prof. Elfindri, basis umat yang terorganisir melalui masjid memiliki potensi besar sebagai kekuatan pemulihan ekonomi. Ia mendorong sinkronisasi program seperti MBG dan Koperasi Merah Putih melalui manajemen masjid, dengan keyakinan bahwa dukungan perantau akan lebih mudah digerakkan melalui jalur ini dibandingkan mekanisme birokrasi pemerintah.

“Basis kekuatan pemulihan ada pada umat yang bersatu melalui masjid. Pasar tetap didorong, negara tetap hadir, tapi alternatif harus dibangun dari kekuatan sosial yang nyata,” katanya.