Opini

Menggaungkan Kembali Konsepsi Parak dan Rimbo Tuo

0
×

Menggaungkan Kembali Konsepsi Parak dan Rimbo Tuo

Sebarkan artikel ini
Rimbo, parak

Ketika bencana hidrometeorologis menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat lebih dari sebulan yang lalu, selain meninggalkan korban harta dan jiwa yang tidak sedikit, juga meninggalkan tanda tanya besar tentang bagaimana sebenarnya kondisi alam di ketika provinsi terdampak tersebut. Karena melihat dari masifnya ketinggian air yang jauh melebihi kejadian-kejadian serupa di masa lalu, juga daya rusak yang ditimbulkannya lebih dasyat.

Selain menghancurkan infrastruktur yang bersinggungan dengan aliran air utama seperti jembatan, jalan, atau bangunan di sepanjang daerah aliran sungai, material bawaan pun sangat berperan menambah destruktibilitas arus air. Baru pada banjir kali inilah, jutaan kubik kayu berikut dengan material pasir, tanah dan lumpur bercampur menenggelamkan setiap yang dilewatinya.

Meski situasi kebencanaan masih terus berlangsung sampai sekarang, semua orang sepertinya sepakat bahwa selain faktor iklim seperti Siklon Sinyar yang mempertinggi debit air hujan, juga terdapat faktor lain yang menyebabkan merosotnya kemampuan lingkungan untuk menyerapnya.

Faktor lingkungan ini sangat jelas sekali berasal dari berkurangnya luas tutupan hutan alami yang kemampuannya dalam menahan, menampung, dan mengalirkan kembali air hujan tidak bisa digantikan oleh bentuk vegetasi apapun lainnya. Sistem kanopi (lapisan tajuk) yang dimiliki oleh hutan alami ini mampu menahan daya rusak yang dimiliki oleh jatuhan air hujan selebat apapun, sedangkan sistem perakarannya yang kompleks membuat air hujan yang sudah “dijinakkan” tadi dapat meresap ke dalam lapisan tanah. Bisa dialirkan dengan lebih tenang melalui sungai dan anak sungai atau disimpan sebagai cadangan air tanah untuk masa-masa sesudahnya.

Baca Juga : Perekonomian Sumbar Tahun 2026 Penuh Tantangan Berlapis

Secara dangkal, fungsi ini yang kemudian mau disematkan pada fenomena kemunculan vegetasi buatan yang sekarang ini banyak menggantikan vegetasi alami terutama di kawasan-kawasan yang terdampak bencana tadi. Bahkan yang bersifat monokultur sekalipun seperti sawit. Dengan asumsi bahwa sawit (Elaeis guineensis) juga adalah pohon, seperti kata seorang pemegang otoritas di negara ini, maka dengan tetiba saja keberadaan kebun sawit yang luasnya ribuan bahwan jutaan hektar tersebut sah dianggap akan memiliki fungsi ekologis yang sama dengan hutan alami. Betapa paradoks yang sangat menggelikan! Karena dari berbagai dokumentasi bencana banjir yang berseliweran di media sosial, terlihat betapa rapuh akar-akar serabut pohon yang berasal mula dari Amerika Latin tersebut menghadapi terjangan gelombang air.

BACA JUGA  Dendam Parpol dan Kuda Hitam Bayangi Keperkasaan Ramlan

Mungkin tidak ada salahnya jika kita kembali menggali kearifan lokal yang berhubungan dengan hal ini. Sumatera Barat, terutama daerah yang berada dalam pengaruh etnisitas Minangkabau, sudah lama mengenal rimbo tuo, yaitu kawasan hutan primer alami yang tidak boleh diusik sama sekali karena peran ekologisnya yang sangat penting, terutama sebagai water reservoir, pelindung kawasan rawan longsor, ataupun sebagai tempat berdiamnya makhluk-makhluk hidup lainnya.

Tempat-tempat yang ada pada perbukitan, gunung, lereng, sampai ke sengkedan sungai ini seringkali juga dibumbui dengan cerita mistis dan mitos tertentu untuk menambah kesan pentingnya perlindungan oleh setiap anggota masyarakat yang ada di bawah selindung adatnya.

Konsepsi yang sama dengan rimbo tuo ini juga ada di kawasan Sumatera Utara dengan istilah naborgo-borgo atau uteun tuha di sepanjang kawasan Daerah Istimewa Aceh. Adanya istilah-istilah tersebut memberikan batasan yang jelas tentang mana kawasan yang boleh dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, mana yang harus dijaga kelestariannya dengan tidak boleh mengusiknya sama sekali.

Bahkan dalam pemanfaatan lingkungan sekitar untuk pemenuhan kebutuhan, tetap ada rambu-rambu dan nilai yang menjamin kelestarian alam. Masyarakat Minang mengenal parak sebagai bentuk pengolahan tanah yang paling ramah bahkan mendekati bentuk ekosistem hutan alami.

BACA JUGA  Parpol Pelopor Kesiapsiagaan Bencana

Dalam sistem ini, vegetasi pepohonan diwakili oleh tumbuh-tumbuhan berkayu dengan umur dan masa produksi yang panjang semisal durian, petai, jariang (jengkol) sampai ke kelapa. Tumbuhan ini berukuran tinggi sehingga menyediakan lapisan kanopi atas, yang bisa saja disambung oleh tumbuhan berkayu yang lebih pendek seperti kopi, cokelat, atau sejenisnya yang menjadi lapisan tengah kanopi.

Di bawahnya, sebagai lapisan penutup permukaan tanah biasanya ditanam tumbuhan annual (semusim) yang berusia singkat, cepat menghasilkan dan cepat pula meningkatkan lapisan hara pada permukaan tanah seperti pisang, pepaya, beragam sayuran, sampai ke tanaman obat dan rempah-rempah. Keragaman tumbuhan produktif pada sistem parak ini memungkinkan terjadinya kontinuitas hasil yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Maka sangat mungkin satu-satunya hal yang dapat membuat manusia beralih dari sistem pemanfaatan sumber daya lingkungan yang berkelanjutan (parak dan rimbo tuo) ke sistem monokultur (sawit atau tanaman produksi lainnya) hanyalah keserakahan manusia semata. Karena sebenarnya, seberapapun yang manusia butuhkan alam akan tetap bisa memenuhi, kecuali pemenuhan keserakahan mafsu tersebut yang ibaratnya meminum air laut.

Menggaungkan kembali konsep-konsep kearifan lokal yang erat hubungannya dengan kelestarian lingkungan (dan kesinambungan pemenuhan kebutuhan manusia) sangat penting untuk menghentikan kerusakan yang telah terjadi. Lebih jauh lagi, ini akan dapat memandu kembali manusia dalam berinteraksi dengan alam lingkungan sekitar, sehingga bencana hidrometeorologis serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang. (*)

Oleh:

Muhammad Nazri Janra

Dosen Departemen Biologi Fakultas MIPA Unand