“Dulu kopi itu dibungkus dengan daun karisiak (daun pisang kering). Pak Jangguik menjajal usahanya dengan berjalan kaki atau menumpang dengan pedati yang lewat untuk sampai ke pasar. Alhamdulillah, dari situlah usaha kopi Pak Jangguik terus berkembang,” ujarnya menjelaskan.
Puncak dari kemajuan usaha bubuk Kopi Janggut itu ketika penjajah Belanda meminta Pak Jangguik untuk mengirim kopinya yang dibungkus langsung dengan kaleng roti dengan skala besar menuju negara Swiss. Dan di situlah usaha kopi yang dibangun Pak Jangguik mulai dinamai dengan Kopi Janggut, karena sering disebut dengan kopinya Pak Jangguik.
“Pak Jangguik pun meneruskan usaha kopinya dengan serius. Sampai Pak Jangguik meninggal, usaha itu langsung diwariskan kepada anaknya yang bernama Rajiah yang merupakan ibu saya. Dan usaha ini tetap dinamai dengan Kopi Janggut karena sudah mendapatkan nama,” ujar Maiyulis.
Setelah Rajiah pun sudah berangsur tua dan tidak dapat lagi mengelolanya secara tekun, barulah Buk Tis alias Maiyulis ini yang melanjutkan usahanya pada menjelang tahun 2000-an. Zaman yang terus berkembang, di tangan Buk Tis usaha bubuk Kopi Janggut terus mengalami kemajuan. Untuk mengembangkan usaha bubuk kopinya itu, Buk Tis pun mengikuti berbagai macam pelatihan guna meningkatkan usahanya.
“Salah satunya pada tahun 2015 saya mengikuti Sosialisasi Pemanfaatan Hak Kekayaan Intelektual di Kota Padang. Selanjutnya saya juga mengurus izin usahanya, mulai dari hak cipta dan juga label halalnya. Dan sekarang usaha bubuk Kopi Janggut pun dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zamannya,” katanya lagi.
Maiyulis sendiri dalam mengelola usaha tersebut memang sudah menggunakan teknologi mesin. Meskipun begitu, sebagai daya jual dan mempertahankan cita rasanya, ada beberapa tahapan dalam produksinya yang dilakukan dengan tradisional, seperti penggilingan.
Dalam penjualannya sendiri, Maiyulis menggunakan sebuah gerai untuk penjualan kopinya. Dengan dibantu anak-anaknya, usaha bubuk Kopi Janggut akhirnya juga merambah pemasarannya secara online di media sosial dan juga toko online.
“Alhamdulillah, berkat eksistensi usaha bubuk Kopi Janggut yang terus terjaga, penjualannya pun semakin menyebar. Mulai dari penempatan di mini market, penjualan ke luar daerah, dan bahkan pelanggan tetap, dan yang lainnya. Kemudian usaha ini juga memilki reseller,” kata Buk Tis alias Maiyulis tersebut.
Ke depannya, Buk Tis berharap agar pengelolaannya dapat terus dioptimalkan dengan baik agar tetap menjadi usaha yang diunggulkan. Kemudian Buk Tis juga ingin usaha bubuk Kopi Janggut ini tetap hidup dan memiliki generasi selanjutnya yang diharapkannya dapat dilanjutkan langsung oleh anak-anaknya. Bukan karena menjaga nama dan sejarahnya begitu saja, akan tetapi usaha kopi juga menjadi salah satu oleh-oleh khas Solok Selatan, yang tentu berpotensi besar terhadap pengembangan dan pengelolaannya ke depan.






