Padang, hantaran.Co–Melatih disiplin pada anak dapat dimulai dari kebiasaan kecil di rumah. Sejak usia dini, disiplin berperan penting dalam membentuk budi pekerti dan karakter anak agar tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan mandiri di kemudian hari.
Meski demikian, penerapan disiplin tidak bisa dilakukan secara kaku. Orang tua perlu menyesuaikan cara mendidik dengan usia dan tahap perkembangan anak. Disiplin bukan sekadar mengajarkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, melainkan membimbing anak agar mampu mengikuti serta menghargai aturan yang berlaku di lingkungannya.
Manfaat penerapan disiplin pada anak sangat beragam. Selain menumbuhkan rasa tanggung jawab, disiplin membantu anak belajar menentukan pilihan yang baik untuk dirinya sendiri. Anak juga dilatih mengelola kecemasan dan emosi, sehingga lebih siap menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga : Mitigasi Bencana Banjir Perlu Dipahami Anak Sejak Dini
Cara melatih disiplin pada anak bergantung pada tahap perkembangannya. Untuk anak berusia tiga tahun ke atas, orang tua dapat mulai menerapkan peraturan atau rutinitas harian di rumah. Misalnya, membiasakan anak membereskan mainan setelah bermain atau merapikan tempat tidur setiap pagi. Rutinitas sederhana ini mengajarkan anak tentang tanggung jawab sekaligus keterampilan manajemen diri.
Selain itu, orang tua perlu memberikan konsekuensi yang sesuai ketika anak melakukan kesalahan atau melanggar aturan. Meskipun tidak mudah melihat anak bersedih, langkah ini bertujuan agar anak memahami akibat dari tindakannya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari.
Di sisi lain, pemberian hadiah juga dapat menjadi bentuk apresiasi. Ketika anak menaati aturan, orang tua bisa memberikan kejutan sederhana sebagai penghargaan. Hal ini membuat anak merasa usahanya dihargai dan semakin termotivasi untuk bersikap disiplin, baik di rumah maupun di lingkungan lainnya.
Pendekatan empati juga penting diajarkan sejak dini. Saat anak berbuat salah, orang tua disarankan melatih empati ketimbang langsung memberikan hukuman. Misalnya, dengan menjelaskan bahwa temannya akan merasa sedih jika mainannya diambil. Dengan tumbuhnya empati, anak akan lebih memahami perasaan orang lain dan mempertimbangkan konsekuensi sebelum bertindak.
Sebelum menerapkan disiplin, orang tua perlu bersikap konsisten dan menjadi teladan yang baik. Apresiasi melalui pujian atau kalimat penyemangat, seperti “Terima kasih sudah membantu” atau “Kamu hebat hari ini,” dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak dan membuatnya semakin senang menjalani aturan yang diterapkan. (*)






