Jakarta, hantaran.Co–Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya dalam sebuah operasi militer rahasia yang berlangsung pada Sabtu dini hari. Dalam pesan yang diunggah di platform Truth Social miliknya pada pukul 04.21 waktu setempat, Trump menyebut operasi tersebut sebagai “misi berani” yang berhasil menahan pemimpin Venezuela itu.
Tindakan tersebut mengejutkan banyak pihak. Namun, menurut sejumlah sumber yang mengetahui operasi tersebut, perencanaan telah dilakukan selama berbulan-bulan dan melibatkan latihan rinci untuk salah satu misi AS paling kompleks dalam beberapa tahun terakhir.
Pasukan khusus AS, termasuk unit elit Delta Force Angkatan Darat, dilaporkan membangun replika rumah persembunyian Maduro dan berlatih cara menembus kediaman yang dijaga sangat ketat tersebut.
Baca Juga : Tips Melatih Disiplin Pada Anak Sejak Dini
Badan intelijen AS, CIA, disebut telah menempatkan tim kecil di lapangan sejak Agustus untuk memantau pola hidup Maduro. Dua sumber lain mengatakan kepada Reuters, Minggu (4/1/2026), bahwa CIA juga memiliki aset yang berada dekat dengan lingkaran Maduro guna melacak pergerakannya secara real time menjelang operasi.
Trump dilaporkan menyetujui operasi tersebut empat hari sebelumnya. Namun, para perencana militer dan intelijen sempat menyarankan penundaan hingga kondisi cuaca lebih mendukung.
Pada Sabtu dini hari, operasi penangkapan dimulai. Trump, yang berada di klub Mar-a-Lago miliknya di Palm Beach, Florida, memantau jalannya misi secara langsung bersama para penasihat seniornya.
“Saya telah melakukan beberapa operasi yang cukup bagus, tetapi saya belum pernah melihat yang seperti ini,” kata Trump kepada Fox News beberapa jam setelah operasi selesai.
Pengerahan Militer Besar-besaran
Pentagon sebelumnya mengawasi pengerahan kekuatan militer AS di kawasan Karibia, termasuk satu kapal induk, 11 kapal perang, lebih dari selusin jet tempur siluman F-35, serta total lebih dari 15.000 personel. Secara resmi, pengerahan tersebut disebut sebagai bagian dari operasi anti-narkoba.
Menurut sumber Reuters, tim inti yang menangani operasi ini melibatkan ajudan senior Trump Stephen Miller, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta Direktur CIA John Ratcliffe. Mereka rutin menggelar pertemuan dan berkoordinasi langsung dengan presiden.
Pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, sejumlah pesawat AS dilaporkan melancarkan serangan terhadap target militer di dalam dan sekitar Caracas, termasuk sistem pertahanan udara Venezuela. Trump mengatakan jumlah pesawat yang dikerahkan sangat besar.
“Kami memiliki jet tempur untuk setiap kemungkinan situasi,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox & Friends.
Sumber-sumber menyebut Pentagon juga mengerahkan pesawat tanker, drone, serta pesawat khusus untuk peperangan elektronik. Gambar Reuters dari Pangkalan Udara La Carlota di Caracas menunjukkan kendaraan militer Venezuela yang hangus dari unit pertahanan udara.
Penangkapan Maduro
Setelah serangan udara, pasukan khusus AS memasuki Caracas dengan persenjataan lengkap. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan helikopter terbang rendah di atas ibu kota Venezuela.
Trump menggambarkan kediaman Maduro sebagai “benteng yang dijaga sangat ketat” dengan pintu baja. Pasukan AS, bersama agen FBI, dilaporkan menerobos masuk dan melumpuhkan pengamanan dalam hitungan detik.
Tidak dijelaskan secara rinci bagaimana penangkapan berlangsung. Namun Trump mengatakan Maduro gagal mencapai ruang aman di dalam kediaman tersebut.
“Dia mencoba masuk ke sana, tetapi diserbu begitu cepat sehingga tidak berhasil,” kata Trump.
Beberapa personel AS dilaporkan terkena tembakan, namun tidak ada korban jiwa. Salah satu helikopter AS juga disebut sempat terkena tembakan, tetapi berhasil kembali dengan selamat.
Maduro kemudian diterbangkan ke kapal serbu amfibi USS Iwo Jima sebelum dipindahkan ke New York untuk menghadapi proses hukum.






