Budaya Menunggu dan Politik Keterlambatan
Salah satu ciri paling kentara dalam pengelolaan lingkungan kita adalah budaya menunggu. Menunggu banjir besar, menunggu korban jatuh, menunggu viral, lalu bergerak. Ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan politik.
Dalam logika pembangunan yang berorientasi pada hasil cepat, pencegahan tidak pernah seksi. Ia tidak menghasilkan peresmian, tidak mudah dipotret, dan tidak langsung terlihat manfaatnya. Maka, visi lingkungan kerap kalah oleh proyek yang lebih “terlihat”.
Padahal, dalam perspektif kritis, keterlambatan ini adalah pilihan. Pilihan untuk mengorbankan masa depan demi kenyamanan hari ini.
Refleksi 2025: Ke Mana Kita Melangkah?
Tahun 2025 seharusnya menjadi momen refleksi kolektif bagi Sumatera Barat. Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk mengajukan ulang pertanyaan paling mendasar, pembangunan untuk siapa, dan dengan cara apa?
Pendekatan Marxian tidak menawarkan solusi instan, tetapi ia memberi kita kacamata untuk melihat bahwa krisis ekologis adalah krisis sistemik. Ia tidak bisa diselesaikan dengan proyek tambal sulam, melainkan dengan perubahan paradigma: dari eksploitasi ke relasi, dari pertumbuhan ke keberlanjutan, dari reaksi ke pencegahan.
Lingkungan harus berhenti diperlakukan sebagai sektor tambahan. Ia harus menjadi fondasi. Tanpa itu, setiap jembatan, jalan, dan bangunan akan selalu berdiri di atas risiko yang kita ciptakan sendiri.
Penutup: Mendengar Air sebagai Bahasa Zaman
Air yang meluap di Sumatera Barat akhir-akhir ini bukan hanya membawa lumpur dan kerusakan. Ia membawa pesan. Bahwa ada yang keliru dalam cara kita membangun, merencanakan, dan memandang alam.
Pertanyaannya bukan lagi apakah bencana akan datang lagi, melainkan apakah kita masih akan terus berpura-pura terkejut ketika ia datang.
Refleksi 2025 ini semestinya menjadi titik balik. Bukan sekadar untuk memperbaiki saluran air, tetapi untuk membenahi cara berpikir. Karena tanpa visi lingkungan yang kuat, pembangunan hanya akan menjadi cara lain untuk menunda bencana berikutnya.
Dan air, seperti sejarah, selalu menemukan jalannya sendiri.**






