Berita

Antisipasi Potensi Bencana Susulan, Pengerukan Sungai Mendesak

4
×

Antisipasi Potensi Bencana Susulan, Pengerukan Sungai Mendesak

Sebarkan artikel ini
Bencana
Antisipasi Potensi Bencana Susulan, Pengerukan Sungai Mendesak. ist

Agam, hantaran.Co–Curah hujan yang kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir telah memicu bencana susulan di berbagai daerah di Sumatera Barat (Sumbar). Guna mencegah bencana susulan terus meluas sejumlah langkah antisipasi mesti disiapkan.

Salah satu langkah antisipasi tersebut berupa pengerukan sungai yang yang mengalami pendangkalan akibat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumbar akhir November 2025 lalu.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah saat meninjau lokasi terdampak bencana banjir bandang di Batang Aia Muaro Pisang, Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya pada Jumat (2/1/2026) kemarin.

Baca Juga : Sambangi SMAN 12 Padang,Wamendikdasmen Pastikan Revitalisasi Sekolah Terdampak Bencana

Dalam kesempatan itu, Gubernur mengatakan, pendangkalan sungai menjadi faktor utama meningkatnya risiko luapan air saat hujan deras dalam beberapa hari terakhir. Oleh sebab tiu, ia memerintahkan pengerukan sungai di sejumlah wilayah rawan bencana untuk menekan risiko banjir bandang susulan.

“Saya sudah meminta Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDA-BK) Sumbar berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V agar segera mengeruk sepanjang aliran sungai yang sudah mengalami pendangkalan,” kata Mahyeldi.

Mahyeldi menegaskan pengerukan sungai bersifat mendesak untuk mencegah bencana serupa terulang. “Segera keruk sepanjang aliran sungai yang sudah mengalami pendangkalan sebelum dampak luapan air semakin parah,” ujarnya.

Di sisi lain, ia juga menyoroti belum maksimalnya penanganan bencana di sejumlah wilayah. Kabupaten Agam misalnya, masih mengalami keterbatasan alat berat yang sangat dibutuhkan untuk normalisasi aliran sungai serta pembersihan material banjir bandang yang masuk ke rumah dan permukiman warga.

“Masih terdapat kekurangan alat berat untuk mempercepat normalisasi sungai yang meluap serta membersihkan material banjir dan lumpur yang terbawa ke pemukiman masyarakat,” ujar Mahyeldi,

Lebih jauh, ia mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk sementara mengungsi ke lokasi yang lebih aman. “Curah hujan masih tinggi dan tanah bekas longsoran masih sangat labil,” kata Mahyeldi.

Baca Juga  Tiga Partai Absen Mendaftar ke KPU Pessel, Ini Peserta yang Bakal Bertarung di Pileg 2024-2029

Di samping itu, Mahyeldi juga mengimbau masyarakat, khususnya pengguna jalan roda dua maupun roda empat, agar senantiasa waspada saat melintasi daerah rawan bencana. Ia mengingatkan bahwa sebagian besar jalur di Sumbar berada di kawasan perbukitan dengan tebing dan jurang di sisi kiri dan kanan jalan. “Jika cuaca hujan, potensi longsor dan runtuhan tanah sangat tinggi. Pastikan kondisi jalan benar-benar aman sebelum melanjutkan perjalanan,” katanya.

Sementara itu, Bupati Agam, Benni Warlis menjelaskan, daerahnya saat ini menghadapi sejumlah bencana alam di beberapa wilayah, sehingga masih membutuhkan tambahan alat berat untuk membersihkan material yang terbawa banjir bandang dan tanah longsor. “Di Agam terjadi bencana di beberapa titik, sehingga kebutuhan alat berat masih sangat besar untuk mempercepat proses pembersihan dan pemulihan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya dukungan dari semua pihak, baik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar maupun pemerintah pusat, guna mempercepat proses penanganan pascabencana.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan agar proses pembersihan dan pemulihan dapat berjalan maksimal dan masyarakat dapat segera beraktivitas kembali. “Kami berharap adanya dukungan penuh dari pemerintah provinsi dan pusat, terutama dalam percepatan penanganan pascabencana yang terjadi di Kabupaten Agam,”ujarnya.

Waspada Bencana Susulan

Sebelumnya, Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan menegaskan bahwa meskipun puncak musim hujan telah terlewati, Sumbar masih berada dalam periode curah hujan yang cukup tinggi. Secara klimatologis, potensi peningkatan curah hujan diperkirakan dapat kembali terjadi pada Maret hingga April 2026.

“Kita tidak boleh berhenti waspada. Curah hujan di Sumbar masih cukup tinggi, dan kejadian hujan ekstrem dengan intensitas di atas 150 milimeter kini semakin sering terjadi,” katanya, Jumat (2/1/2025).

Baca Juga  Plt Ketua KONI Pessel M. Adli Nyatakan Siap Maju di Musorkablub 2025

Ia menambahkan, kondisi Sumbar yang berada di wilayah ekuator dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia membuat daerah ini menerima suplai uap air yang besar. Suhu muka laut yang tinggi turut meningkatkan peluang terbentuknya cuaca ekstrem, sehingga seluruh pihak diminta terus meningkatkan kesiapsiagaan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan di Sumbar masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, dengan potensi curah hujan yang masih fluktuatif.

Oleh karenanya, masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor, menghindari aktivitas di sekitar sungai saat hujan deras, mempersiapkan tas siaga, serta rutin memantau peringatan dini cuaca. Kesiapsiagaan sejak dini diharapkan dapat meminimalkan risiko dan melindungi keselamatan bersama di awal tahun 2026.

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumbar, Era Sukma Munaf menjelaskan, karakter wilayah Sumbar membuat daerah ini sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Sungai-sungai yang pendek dan berbatu menyebabkan aliran air bergerak cepat saat hujan deras terjadi.

“Struktur wilayah kita ini bukit, sawah, dan sungai. Sungai kita pendek tapi terjal. Aliran yang muncul sekarang sejatinya adalah alur sungai lama. Alam sedang mengambil kembali miliknya,” ujar Era.

Untuk itu, ia mengimbau masyarakat yang bermukim di sekitar bantaran sungai agar lebih berhati-hati, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Jika kondisi tidak memungkinkan dan hujan masih tidak menentu, masyarakat diminta mempertimbangkan evakuasi sementara demi keselamatan jiwa.

BPBD Sumbar, lanjutnya, terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, BMKG, serta forum kebencanaan untuk mengantisipasi potensi bencana susulan di sejumlah daerah.