Bencana yang melanda Sumatera Barat sejak akhir November 2025 hingga kini masih menyisakan luka yang dalam. Curah hujan yang saat ini masih terus mengguyur tidak semata mengirimkan air dan material longsor ke wilayah lembah dan permukinan masyarakat, namun juga merampas kedamaian dan penghidupan ribuan keluarga.
Hanya dalam waktu singkat, lahan pertanian yang menjadi sandaran hidup berubah menjadi lapisan lumpur dan bebatuan. Tempat bercocok tanam lenyap, hewan ternak raib, dan tempat tinggal yang dibangun dengan jerih payah puluhan tahun ambruk sebelum sempat diselamatkan harta bendanya. Di berbagai nagari, fajar tidak lagi disambut dengan rutinitas mencari nafkah melainkan dengan pergulatan paling mendasar bagaimana menyambung hidup hari ini.
Baca Juga : Antisipasi Potensi Bencana Susulan, Pengerukan Sungai Mendesak
Banjir besar dan tanah longsor ini lebih dari sekedar fenomena alam namun bencana besar yang menghentikan denyut kehidupan. Rantai penghidupan warga terputus secara tiba-tiba dan menyeluruh. Para penggarap sawah kehilangan masa tanam, buruh tani tak lagi memperoleh upah, pedagang kecil kehilangan lapak usahanya, dan keluarga kehilangan hunian yang sekaligus menjadi pusat kegiatan ekonomi rumah tangga. Ketika rumah tersapu air, yang turut hilang bukan cuma bangunan fisik, tetapi juga perkakas kerja, simpanan hasil bumi, tabungan, serta impian yang dipupuk sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.
Pandangan Prof. Elfindri dalam media Padang Ekspres pada 4 Januari 2026 mengenai pentingnya strategi double gardan untuk pemulihan ekonomi pascabencana Desember 2025 di Sumatera Barat menjadi sangat relevan dalam situasi ini. Beliau menegaskan bahwa krisis yang terjadi bukanlah gangguan sementara, melainkan pukulan dahsyat yang langsung menyasar lapisan masyarakat terbawah. Mereka adalah orang-orang yang selama ini menggantungkan hidup dari mengolah tanah dan menjalankan usaha skala kecil, yang kini musnah diterjang bencana.
Hampir 80 Persen Daerah di Sumatera Barat Terdampak
Dampaknya meluas ke hampir 80 persen wilayah administrasi kabupaten/kota di Sumatera Barat. Berdasarkan data sementara dari Dashboard Kebencanaan Sumatera Barat per 4 Januari 2026, tercatat 4.208 rumah rusak parah, 750 rumah hanyut, 2.954 rumah rusak sedang, 6.725 rumah rusak ringan, serta 37.584 rumah tergenang yang memerlukan pembersihan dan perbaikan sanitasi. Selain itu, tercatat sedikitnya 305 titik longsor dan amblesan jalan, 311 jembatan rusak, dan 389 jaringan irigasi mengalami kerusakan.
Kerusakan infrastruktur yang berada di bawah kewenangan berbagai tingkatan pemerintah hingga tanggal yang sama diperkirakan mencapai Rp13,95 triliun, sementara kerugian ekonomi di berbagai sektor diperkirakan sekitar Rp17,24 triliun. Angka ini setara dengan hampir lima kali lipat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumatera Barat setiap tahunnya, yang berarti jauh melebihi kemampuan keuangan daerah untuk lima tahun anggaran mendatang.
Pernyataan Prof. Elfindri dalam konteks ini menggambarkan tekanan fiskal yang sangat berat, yang berpotensi bertambah seiring ancaman bencana lanjutan yang masih mengintai. Luasnya dampak yang terjadi menunjukkan betapa dalamnya luka yang harus diobati. Kerusakan fisik dan kerugian ekonomi yang mencapai puluhan triliun rupiah jelas melampaui kemampuan fiskal daerah.






