Namun, yang lebih mendesak dari sekadar angka adalah kenyataan bahwa waktu terus berjalan sementara masyarakat kecil semakin terdesak. Setiap hari tanpa pekerjaan berarti tidak ada pendapatan, dan setiap penundaan pemulihan berarti bertambahnya beban hidup keluarga yang terdampak.
Secara makro, bencana ini diperkirakan akan memberikan dampak yang signifikan dan menyeluruh terhadap perekonomian dan proses pembangunan Sumatera Barat dalam jangka menengah. Karena guncangan utama terjadi tepat pada sektor-sektor tulang punggung perekonomian daerah, yang kontribusinya besar dalam PDRB dan penyerapan tenaga kerja.
Sektor pertanian, perdagangan, dan UMKM yang menjadi penyangga utama mata pencaharian masyarakat mengalami pukulan paling telak. Hilangnya lahan produktif, terputusnya rantai pasok, dan hancurnya aset usaha bukan hanya statistik kerugian, tetapi juga berarti terhentinya aktivitas ekonomi yang selama ini menggerakkan roda perekonomian dari tingkat nagari hingga provinsi.
Dampaknya bersifat multidimensi. Selain penurunan tajam output ekonomi di sektor-sektor terdampak, juga akan terjadi peningkatan pengangguran mendadak dan penurunan daya beli masyarakat secara luas. Hal ini berpotensi memicu perlambatan ekonomi (slowdown) yang dapat mengikis capaian pembangunan yang telah diraih bertahun-tahun.
Proyek-proyek infrastruktur dan investasi jangka panjang juga terancam tertunda atau teralihkan dananya untuk penanganan darurat, sehingga momentum pembangunan daerah bisa mengalami kemunduran.
Oleh karena itu, respons pemulihan tidak boleh hanya bersifat reaktif dan fisik semata, tetapi harus dirancang sebagai program pemulihan ekonomi struktural. Strategi double gardan yang diusulkan harus mampu menjawab dua tantangan sekaligus dalam satu gerakan.
Pertama, menginjeksi daya beli dan mengembalikan penghidupan masyarakat melalui program padat karya dan dukungan usaha. Kedua, membangun kembali fondasi ekonomi daerah yang lebih tangguh (resilient) dan berkelanjutan. Investasi dalam rehabilitasi infrastruktur produktif seperti irigasi, jalan usaha tani, dan pasar nagari harus diprioritaskan untuk segera menghidupkan kembali sektor-sektor kunci tersebut.
Pemulihan yang cepat dan tepat pada sektor-sektor penyangga PDRB dan penyerap tenaga kerja ini adalah kunci untuk mencegah kontraksi ekonomi yang lebih dalam dan memutus spiral dampak negatif ke sektor lainnya.






