Menurutnya, empati dan solidaritas sosial merupakan bagian penting dari ajaran agama yang harus terus dihidupkan, terutama saat masyarakat berada dalam situasi sulit dan penuh duka.
Kementrian Agama Konsisten Jaga Keseimbangan
Dalam konteks kelembagaan, Mahyeldi mengapresiasi perjalanan 80 tahun Kemenag yang dinilainya konsisten menjaga keseimbangan antara nilai-nilai agama dan kehidupan berbangsa. Moderasi beragama disebut sebagai fondasi penting untuk meredam konflik dan menjaga keutuhan sosial.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, serta derasnya arus informasi menuntut Kemenag untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Mahyeldi mendorong aparatur sipil negara di lingkungan Kemenag agar mampu memanfaatkan kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, sebagai sarana pelayanan umat yang lebih efektif dan inklusif. “Teknologi harus menjadi sarana untuk memperluas kemaslahatan umat, bukan justru menjauhkan kita dari nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan,” tegasnya.
Upacara peringatan HAB ke-80 tersebut dihadiri unsur Forkopimda, perwakilan TNI-Polri, Kejaksaan Tinggi Sumbar, BIN Daerah Sumbar, BKKBN, pimpinan perbankan, tokoh adat, serta organisasi kemasyarakatan keagamaan. Kehadiran lintas elemen ini menjadi simbol bahwa persoalan kebangsaan dan daerah membutuhkan kerja bersama, sejalan dengan semangat Hari Amal Bhakti.





