Ekonomi

Inflasi Sumbar pada Desember 2025 Meroket

3
×

Inflasi Sumbar pada Desember 2025 Meroket

Sebarkan artikel ini
desember

Padang, hantaran.Co–Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Desember 2025 Sumatera Barat (Sumbar) mengalami inflasi year on year (y-on-y) sebesar 5,15 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,41. Angka inflasi yang terbilang tinggi ini dipicu oleh kondisi bencana alam yang melanda sejumlah daerah di Sumbar pada akhir November 2025 lalu.

Kepala BPS Sumbar, Sugeng Arianto mengatakan, tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 7,09 persen dengan IHK sebesar 115,17 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Padang sebesar 4,66 persen dengan IHK sebesar 111,66 persen.

Ia menjelaskan, inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 10 kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 9,79 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,40 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,51 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,12 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,65 persen; kelompok transportasi sebesar 3,94 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,99 persen; kelompok pendidikan sebesar 3,35 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,10 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 16,20 persen. Sedangkan 1 kelompok lainnya mengalami deflasi y-on-y, yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,21 persen.

Baca Juga :Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025, Implementasi Amanat Konstitusi

“Kelompok ini pada Desember 2025 tidak memberikan andil/sumbangan yang signifikan terhadap inflasi atau deflasi month to month (m-to-m) Sumbar. Secara m-to-m, Sumbar bulan Desember 2025 mengalami inflasi sebesar 1,48 persen,” kata Sugeng dalam keterangan resmi, Senin (5/1/2026).

BACA JUGA  PDI Gelar Penanaman Ribuan Bibit Mangrove di Pesisir Selatan, Peringati Hari Mangrove Sedunia

Sementara komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan m-to-m pada Desember 2025 antara lain bawang merah, cabai rawit, beras, daging ayam ras, kangkung, emas perhiasan, cabai merah, angkutan antar kota, telur ayam ras, buncis, cabai hijau, bayam, ikan gembolo/ikan aso-aso, terong, kacang panjang, tarif kendaraan travel, santan segar, sawi hijau, angkutan udara, dan ikan serai. Selanjutnya, komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m pada Desember 2025 antara lain: wortel, jengkol, jeruk nipis/limau, dan ikan tuna.

“Pada Desember 2025, sembilan kelompok memberikan andil inflasi y-on-y, satu kelompok memberikan andil deflasi y-on-y, dan satu kelompok tidak memberikan andil inflasi/deflasi y-on-y,” katanya.

Kelompok Pengeluaran Penyumbang Inflasi Bulan Desember

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan y-on-y, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,23 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,03 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,27 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,02 persen; kelompok transportasi sebesar 0,42 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02 persen; kelompok pendidikan sebesar 0,15 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,23 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,79 persen.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen. Sementara itu, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga tidak memberikan andil/sumbangan yang signifikan terhadapa inflasi/deflasi y-on-y.

Tak hanya di Sumbar, dua provinsi lainnya yang dilanda bencana, Aceh dan Sumatera Utara (Sumut), juga mencatatkan inflasi tinggi. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini menyebut, ketiga provinsi di Sumatera itu masuk dalam kelompok wilayah dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia.

BACA JUGA  Pemerintah Bangun Ekosistem Industri Game Nasional

“Untuk Provinsi Aceh, Sumut, dan Sumbar, ini mengalami inflasi pada Desember 2025, setelah sebelumnya deflasi pada November 2025. Ketiga provinsi ini termasuk dalam kelompok provinsi dengan tingkat tertinggi,” katanya di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026).

Pudji menjelaskan, inflasi di tiga provinsi tersebut erat kaitannya dengan kenaikan harga sejumlah komoditas. Kenaikan harga terjadi seiring gangguan distribusi dan pasokan akibat bencana banjir bandang hingga longsor yang melanda wilayah tersebut sejak akhir November 2025.

Berdasarkan catatan BPS, secara umum kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar di Aceh, Sumut, dan Sumbar. “Seperti di Aceh yang utamanya didorong oleh kenaikan harga beras, kemudian Sumut didorong oleh kenaikan harga cabai rawit, serta di Sumbar yang utamanya didorong oleh bawang merah,” ujar Pudji.

Ia menambahkan, jika dibandingkan secara nasional, Aceh tercatat sebagai provinsi dengan inflasi tahunan paling tinggi. Inflasi y-on-y di Aceh mencapai 6,71 persen. Sementara itu, provinsi dengan tingkat tahunan terendah terjadi di Sulawesi Utara, yakni sebesar 1,23 persen. Perbedaan ini menunjukkan adanya ketimpangan tekanan harga antarwilayah.