Dalam kerangka tersebut, kegagalan Venezuela memerangi narkotika, keterlibatan elite-elite Venezuela, termasuk Maduro, dalam jaringan kriminal transnasional, serta krisis ekonomi yang memicu arus migrasi besar-besaran ke Amerika Utara dilebur menjadi satu narasi ancaman keamanan nasional. Venezuela tidak lagi dipotret sebagai rezim otoriter yang menyimpang, tetapi sebagai sumber instabilitas yang akan berdampak langsung pada masyarakat Amerika.
Narasi ini kemudian memberikan legitimasi politik yang krusial bagi aksi militer. Ketika sebuah negara diposisikan sebagai ancaman keamanan domestik, tindakan militer kemudian akan dibingkai bukan sebagai intervensi asing, melainkan sebagai langkah defensif. Di titik inilah sanksi dan diplomasi, yang selama bertahun-tahun gagal, akan ditinggalkan. Kekerasan negara menjadi alat yang sah dalam imajinasi kebijakan Washington.
Pendekatan ini juga mencerminkan perubahan ideologis dalam kebijakan luar negeri Amerika. Dokumen National Security Strategy 2025 yang dirilis Desember lalu menandai pergeseran drastis bahasa geopolitik Paman Sam. Retorika tentang tatanan internasional berbasis aturan mulai memudar. Sebagai gantinya, Amerika secara terbuka menekankan kepentingan pengaruh nyata dan kontrol geopolitik di kawasan yang dianggap sebagai halaman belakangnya.
Di sinilah Monroe Doctrine menemukan nafas barunya. Bukan sebagai slogan abad ke-19, tetapi sebagai kerangka operasional abad ke-21. Amerika Latin diperlakukan sebagai titik dan ruang keamanan inti Amerika Serikat, wilayah yang tidak boleh menjadi panggung penetrasi kekuatan eksternal mana pun kecuali Amerika.
Venezuela dekat dengan China dan Rusia
Venezuela, atas kedekatannya dengan China sebagai kreditur dan investor utama, Rusia sebagai pemasok senjata, serta Iran sebagai mitra politik, kemudian dipandang sebagai pelanggaran paling terang atas logika geopolitik di dalam doktrin tersebut. Artinya, aksi militer Amerika pada 3 Januari 2026 di Venezuela adalah konsolidasi hegemonik. Amerika sedang menegaskan kembali garis merahnya di Belahan Barat. Dan pesan ini tidak hanya ditujukan kepada Caracas, tetapi juga kepada negara-negara lain di kawasan bahwa batas toleransi Washington telah berubah secara mendasar.
Makna terdalam dari aksi ini justru terletak di luar Amerika Latin, yakni pada implikasinya bagi China. Selama bertahun-tahun, Beijing adalah importir utama minyak Venezuela dan salah satu kreditur terbesarnya. Hubungan tersebut dibangun di atas logika geoekonomi, yakni pinjaman besar, investasi energi, dan prinsip non-intervensi politik.






