Aksi militer Amerika kali ini juga ikut menghantam inti dari asumsi tersebut. Dengan satu operasi singkat, Washington menunjukkan bahwa realitas politik yang menopang investasi China dapat diubah secara sepihak ketika dianggap telah menyentuh kepentingan inti Amerika. Minyak Venezuela yang selama ini menjadi aset diversifikasi pasokan bagi China berubah menjadi sumber ketidakpastian.
Bagi Beijing, pesan ini sangat jelas. Ketergantungan China terhadap impor minyak, lebih dari 70 persen kebutuhan energinya, adalah kerentanan struktural. Venezuela selama ini membantu mengurangi ketergantungan China pada Timur Tengah. Kini, diversifikasi tersebut terbukti rapuh di hadapan kekuatan militer Amerika.
Xi Jinping hampir pasti membaca peristiwa ini sebagai peringatan strategis. Jika Amerika berani bertindak terbuka di Amerika Latin, maka di kawasan yang jauh lebih vital bagi China, seperti Asia Timur dan Selat Taiwan, logika kekuatan tidak akan dibatasi oleh interdependensi ekonomi. Ke depan, relasi Amerika-China akan semakin mengarah pada kompetisi struktural yang lebih keras.
Amerika akan berupaya mengamankan wilayah inti dan tuas geoekonomi strategis, termasuk energi. China, di sisi lain, akan terdorong mempercepat diversifikasi pasokan, memperdalam hubungan dengan produsen yang relatif aman dari tekanan Amerika, serta meningkatkan kapasitas proteksi atas kepentingan luar negerinya.
Aksi 3 Januari 2026 pada akhirnya bukan sekadar tentang Venezuela atau Maduro, tapi juga tentang pesan Amerika kepada dunia yang sedang berubah, dunia di mana kekuatan akan kembali menjadi penentu akhir, dan di mana rivalitas Amerika-China telah memasuki fase yang lebih langsung, lebih telanjang, dan lebih berisiko.
Dari perspektif geopolitik, langkah Amerika ini akan mempersempit ruang abu-abu dalam hubungannya dengan China. Beijing akan semakin dipaksa untuk menerima bahwa ada wilayah-wilayah tertentu di dalam sistem internasional yang oleh Washington didefinisikan sebagai kepentingan “non-negotiable”. Amerika Latin adalah salah satunya. Konsekuensinya, China berkemungkinan besar akan mengadopsi pendekatan yang lebih berhati-hati, bahkan defensif, dalam memperluas pengaruhnya di kawasan yang secara historis sensitif bagi Amerika.
Namun kehati-hatian ini tidak berarti penarikan diri sepenuhnya. Sebaliknya, China justru akan mempercepat konsolidasi pengaruhnya di kawasan lain yang dianggap lebih aman secara geopolitik. Asia Tengah, Afrika, dan Timur Tengah akan semakin penting sebagai sumber energi dan ruang proyeksi kepentingan ekonomi China. Diversifikasi jalur pasokan minyak dan gas, baik melalui kontrak jangka panjang, pembangunan infrastruktur, maupun peningkatan kapasitas cadangan strategis, akan menjadi prioritas nasional Beijing.
Di saat yang sama, Amerika Serikat sebenarnya juga tidak bergerak tanpa risiko. Penggunaan kekuatan secara terbuka di Venezuela memperkuat persepsi global bahwa Washington semakin nyaman dengan pendekatan koersif. Tak pelak, hal tersebut akan mempercepat polarisasi internasional dan mendorong China serta mitra-mitranya untuk membangun mekanisme lindung nilai geopolitik, termasuk memperkuat kerja sama energi di luar sistem yang didominasi Barat. (*)
Oleh:
Ronny P. Sasmita
Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution






