Namun demikian kata Majid, pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat diproyeksikan membaik pada kisaran 3,77 hingga 4,57 persen (yoy). Peningkatan ini didorong oleh berbagai upaya pemulihan pascabencana, peningkatan belanja pemerintah, serta konsumsi masyarakat yang diperkirakan lebih tinggi.
Majid menekankan pentingnya percepatan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu kunci pemulihan ekonomi. “Pembangunan infrastruktur, baik jalan, infrastruktur pertanian, maupun program rehabilitasi perumahan, menjadi tiga faktor yang sangat penting,” ucapnya.
Bank Indonesia bersama berbagai lembaga terkait juga akan terus bekerja sama untuk membuka dan memperluas akses pasar. Menurut Majid, proses pemulihan ekonomi saat ini sudah berjalan, namun perlu diperkuat dengan langkah rekonstruksi dan perluasan akses pasar agar pertumbuhan ekonomi Sumbar dapat kembali meningkat secara berkelanjutan
Majid Ikram juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi di provinsi itu pada 2025, termasuk yang kurang menggembirakan.“Kalau kami perhatikan, sejak pascacovid-19, tahun 2022 masih lumayan. Tapi 2023 pun setelah triwulan 2 pernah mencapai 5,1 [persen], setelah itu seolah olah terperangkap di angka 4,” katanya.
Ia melanjutkan, bahkan pada dua triwulan (Quarter 3 dan 4) terakhir pada 2025 pertumbuhan ekonomi Sumbar hanya berada pada angka tiga.“Ini juga mengakibatkan proyeksi kami untuk pertumbuhan ekonomi tidak terlalu optimistis, apalagi terjadi bencana pada akhir tahun 2025,” ungkap Majid.
Menurut Majid, pada 2025 pihaknya memperkirakan peetumbuhan ekonomi Sumbar maksimal pada angka 4,1 persen. “Dengan terjadinya bencana, tu kemungkinan sudah, sehingga range 3,3 sampai 4,1 condongnya saya pertumbuhan ekonomi ke arah 3 ,5 persen,” ungkap Majid.
Ia menyampaikan, sedangkan pada 2026 pihaknya berharap pertumbuhan ekonomi Sumbar bisa tumbuh mencapai angka 4,5 persen.“Kami tunggu proses pemulihan pascabencana bisa berjalan lancar, seperti pembangunan infrastruktur, pertanian, dan program rehab perumahan,” pungkas Majid.






