Opini

LGBT Tidak Pandang Status

1
×

LGBT Tidak Pandang Status

Sebarkan artikel ini
LGBT

Beberapa waktu terakhir, masyarakat Kota Padang dan Indonesia dikejutkan oleh pemberitaan mengenai keterlibatan seorang guru dan siswa dalam dugaan perilaku menyimpang atau LGBTyang terjadi di lingkungan rumah ibadah. Kasus ini dengan cepat menyebar di ruang publik, memicu reaksi emosional, kecemasan sosial, serta perdebatan moral yang luas. Terlepas dari aspek hukum dan keagamaan yang sedang ditangani oleh aparat berwenang, fenomena ini perlu dilihat secara lebih mendalam melalui kacamata ilmiah, khususnya dalam perspektif perilaku individu dan nilai dalam dunia pendidikan.

Baca Juga : Telkom Raih Penghargaan ICCS Summit 2025

Pendekatan ini penting agar masyarakat tidak terjebak pada stigma, generalisasi, atau kemarahan kolektif yang justru mengaburkan akar persoalan. Dalam ilmu perilaku organisasi, setiap tindakan individu dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara faktor personal, lingkungan sosial, sistem organisasi dan nilai-nilai yang mengitarinya.

Perilaku Individu Sistem Sosial

Dalam kajian perilaku individu, manusia tidak pernah bertindak dalam ruang hampa. Sikap dan tindakan seseorang dipengaruhi oleh persepsi, pengalaman hidup, tekanan psikologis, norma sosial, serta sistem nilai yang berlaku di lingkungan. Robbins dan Judge  menegaskan bahwa perilaku individu dalam organisasi merupakan refleksi dari bagaimana individu menafsirkan realitas sosial dan merespons tuntutan peran yang melekat padanya. Dalam konteks lembaga pendidikan, guru dan siswa memiliki peran sosial yang jelas dan sarat dengan ekspektasi moral. Guru diposisikan sebagai figur teladan, pembimbing, sekaligus penjaga nilai. Sementara siswa berada dalam fase perkembangan psikologis yang rentan, penuh pencarian identitas dan sangat dipengaruhi oleh figur otoritas di sekitarnya.

BACA JUGA  Kronologis Pembahasan RUU Cipta Kerja

Manajemen Etika

Dalam ilmu manajemen, organisasi termasuk sekolah dan lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk membangun sistem yang mampu mengarahkan perilaku anggotanya agar selaras dengan nilai institusional dan norma sosial. Konsep ethical management menekankan pentingnya kode etik, pengawasan, pembinaan dan mekanisme pencegahan perilaku menyimpang atau LGBT. Kasus LGBT yang terjadi menunjukkan adanya celah dalam sistem pengawasan dan pembinaan karakter. Ketika kontrol organisasi lemah, individu dengan kecenderungan perilaku tertentu dapat bertindak tanpa hambatan. Hal ini sejalan dengan teori control theory, yang menyatakan bahwa perilaku menyimpang lebih mungkin terjadi ketika ikatan individu dengan norma sosial dan institusi melemah. Guru sebagai tenaga profesional seharusnya tidak hanya dinilai dari kompetensi akademik, tetapi juga dari integritas moral dan kesehatan psikologis.

BACA JUGA  Syariah, Momentum Sumatera Barat

Tekanan Psikologis

Perilaku individu LGBT juga sering kali muncul sebagai akibat dari disonansi kognitif, yaitu kondisi ketika nilai personal bertentangan dengan norma sosial atau peran profesional. Individu yang tidak mampu mengelola konflik nilai ini berpotensi melakukan tindakan tersembunyi yang menyimpang dari ekspektasi publik. Dalam masyarakat yang religius dan menjunjung tinggi norma adat seperti di Sumatera Barat, tekanan sosial terhadap individu sangat kuat. Ketika individu tidak memiliki ruang dialog, konseling, atau pendampingan psikologis yang memadai, konflik batin tersebut dapat berkembang menjadi perilaku berisiko.

Rumah Ibadah Simbol Nilai

Fakta bahwa dugaan peristiwa LGBT terjadi di rumah ibadah menimbulkan guncangan emosional yang lebih besar di masyarakat. Rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan, tetapi juga simbol kesucian, moralitas dan kontrol sosial. Ketika simbol ini tercoreng, kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan dan moral sosial ikut terganggu. Dalam perspektif perilaku organisasi, pelanggaran terhadap simbol nilai memiliki dampak yang lebih luas dibandingkan pelanggaran biasa. Ia merusak legitimasi institusi, menciptakan ketidakpercayaan dan memicu reaksi kolektif.