Semenjak banjir besar yang melanda Sumatera Barat bersama dengan dua provinsi lainnya sebulan lebih yang lalu, boleh dikata kalau banyak infrastruktur masyarakat yang belum benar-benar pulih. Rumah-rumah penduduk terdampak, jika tidak rusak atau hancur, banyak yang terendam lumpur yang makin mengering, yang justru makin susah untuk dibersihkan.
Sarana transportasi seperti jalan dan jembatan juga banyak yang rusak oleh aliran air, sehingga menimbulkan gangguan pada perpindahan manusia dan barang. Fasilitas lain yang tak kalah penting dan terdampak akibat banjir adalah air bersih yang digunakan untuk keperluan konsumsi serta kepentingan mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Baca Juga : Normalisasi Sungai di Sumbar Dikebut
Sampai saat ini, di banyak tempat yang terpengaruh bencana, ketersediaan air bersih, terutama yang bergantung pada instalasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) masih mengalami gangguan. Banjir dahsyat di akhir bulan November tahun lalu tersebut mempengaruhi reservoir dan sarana pengolahan air, sehingga proses perbaikannya berdampak pada berkurangnya pasokan air ke rumah-rumah secara signifikan.
Kebutuhan terhadap air bersih dengan syarat minimum konsumsi (tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa) adalah kebutuhan pelak bagi setiap orang. Sehingga kerusakan sarana prasarana penyaluran air bersih akibat bencana banjir menyebabkan anggota masyarakat berusaha untuk mencukupinya dengan berbagai cara.
Bagi yang memiliki sumur atau sumur bor yang digerakkan dengan tenaga listrik, air untuk konsumsi bisa diambil dari dalam tanah. Secara temporal, air juga bisa tersedia saat hujan meski tentunya tidak bisa selalu diandalkan, karena tidak selalu setiap hari hujan turun. Begitu pula dengan mengambil air ke tempat-tempat yang dinilai memiliki kelebihan, seperti ke tetangga yang memiliki sumur bor, masjid, atau fasilitas umum yang bisa berbagi. Bagi yang memiliki kelebihan dana, bisa membeli air bersih yang dibawa dengan mobil tangki.
Padang Banyak Memiliki Sungai dengan Aliran Pendek
Untungnya, Kota Padang dan banyak wilayah di Sumatera Barat lainnya, sungai adalah lanskap yang selalu ada memintas di antaranya. Kawasan Sumbar yang kebetulan berada di sisi barat pulau (dan Pegunungan Bukit Barisan), biasanya memiliki aliran sungai yang lebih pendek, arus lebih deras, serta tidak terlalu dalam, karena segera bermuara ke Samudera Hindia yang tidak lebih lebih dari 50 kilometer ke arah barat dari titik pusat pegunungan yang membelah Pulau Sumatera tersebut.






