Pada saat-saat sulit mendapatkan air bersih seperti sekarang inilah, kita dapat melihat fenomena masyarakat sekitar sungai yang kembali ramai memanfaatkannya. Jika di hari-hari sebelum bencana hidrometeorologis terjadi hanya sekitar belasan orang yang mungkin memanfaatkan air sungai, sekarang setiap pagi dan terutama sore hari ratusan bahkan mungkin ribuan orang menggunakannya. Banda Bakali mungkin salah satu contoh yang dapat kita amati untuk kasus ini.
Selain dipakai untuk mencuci pakaian dan alat-alat rumah tangga, air dari sungai yang menurut sejarah sengaja digali untuk membagi aliran Batang Arau dari Lubuk Paraku ini juga digunakan untuk kepentingan mandi. Bahkan pada spot-spot tertentu yang masih memiliki bantaran pasir atau kerikil, orang juga menggali lubang tanah yang fungsinya untuk menyaring air sungai sehingga lebih bersih dan lebih dapat digunakan untuk kepentingan yang krusial seperti memasak atau konsumsi lainnya. Fungsi-fungsi inilah yang kembali bergiat pascabencana, setelah sebelumnya aliran air sungai ini, dan mungkin juga banyak sungai lainnya di Sumbar, lebih hanya tempat buang hajat semata.
Yang lebih menggembirakan lagi adalah tingkat kebersihan sungai dan bantarannya seperti mengalami perbaikan. Sebelum-sebelumnya, boleh dikatakan setiap orang yang tinggal di pinggir sungai seperti Banda Bakali tersebut menjadikan aliran air sebagai “tong sampah” dengan melempar sampah yang sudah dibungkus dalam kantong kresek. Tapi ketika aliran air mengalami peningkatan pemanfaatan karena rusaknya sistem pengaliran air bersih PDAM, sepertinya muncul sedikit kesadaran dari masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai yang airnya mereka gunakan tersebut. Ini mungkin hanya data empiris dari pengamatan sekilas terhadap masyarakat sekitar sungai Banda Bakali (dan mungkin sungai-sungai lain), tetapi mungkin bisa menjelaskan fenomena kebersihan sungai tersebut.
Tentunya diperlukan pengamatan dan bahkan penelitian lebih lanjut untuk ini, tetapi satu kekhawatiran muncul berkaitan dengan hal ini. Ketika suatu saat ketergantungan masyarakat terhadap air sungai menurun seiring dengan telah selesainya perbaikan sarana prasarana aliran air bersih PDAM, bukan tidak mungkin kepedulian mereka terhadap kebersihan sungai juga akan menghilang. Karena sudah menjadi dalil universal bahwa sesuatu yang tidak memiliki nilai penting bagi seseorang atau sekelompok masyarakat cenderung akan memiliki tingkat penghargaan dan pemeliharaan yang rendah.
Terlebih dengan tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap nilai-nilai konservasi alam lingkungan sekitarnya, sangat mungkin membuat “kepedulian temporal” mereka terhadap sungai juga akan otomatis. Tapi mudah-mudahan hal ini salah. Karena bencana banjir yang sebelumnya terjadi serta tingkat ketergantungan kita terhadap sumber air harusnya mengajarkan kita untuk dapat menjaga badan-badan perairan yang ada. Kita harus tetap berkepentingan dengan sungai, mulai dari hulu sampai hilirnya. (*)
Oleh:
Muhammad Nazri Janra
Dosen Departemen Biologi Fakultas MIPA Unand






