SOLOK SELATAN, HANTARAN.CO — Kabupaten Solok Selatan tidak hanya dikenal sebagai daerah administratif yang relatif muda di Sumatera Barat (Sumbar), tetapi juga sebagai ruang pertemuan sejarah dan kebudayaan yang kaya. Di tanah yang disebut Sarantau Sasurambi ini, jejak tradisi Minangkabau berpadu dengan ragam budaya pendatang yang telah berakar selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Kekayaan sejarah dan keberagaman budaya tersebut kembali dipertontonkan melalui Pawai Kebudayaan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-22 Kabupaten Solok Selatan, awal Januari 2026. Pawai ini menjadi ruang ekspresi kolektif yang merekam perjalanan panjang peradaban masyarakat Solok Selatan dari masa ke masa.
Bupati Solok Selatan, Khairunas menegaskan bahwa pawai kebudayaan bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan cermin identitas dan ingatan kolektif masyarakat Solok Selatan yang diwariskan lintas generasi.
“Pawai kebudayaan ini adalah gambaran adat dan tradisi masyarakat Solok Selatan dari Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh hingga ke Sangir Balai Janggo dan Sangir Batang Hari. Ia menjadi saksi kekayaan budaya yang tumbuh dan bertahan hingga hari ini,” ujar Khairunas saat membuka Pawai Kebudayaan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Solok Selatan, Senin (5/1/2026).
Secara historis, wilayah Solok Selatan merupakan daerah perlintasan dan persinggahan. Letaknya yang strategis menjadikan kawasan ini terbuka terhadap arus migrasi, perdagangan dan interaksi budaya. Di sinilah adat Minangkabau berinteraksi dengan kebudayaan dari berbagai daerah, termasuk Jawa, tanpa kehilangan akar nilai lokalnya.
Dalam pawai kebudayaan tersebut, beragam seni pertunjukan, busana adat, tarian tradisional, hingga simbol-simbol ritual ditampilkan oleh masing-masing kecamatan. Menariknya, meski mengusung tema yang sama, setiap wilayah menghadirkan ekspresi budaya yang khas hasil adaptasi sejarah, kondisi geografis dan dinamika sosial masyarakat setempat.
Beberapa penampilan bahkan memperlihatkan akulturasi budaya Jawa yang telah lama berbaur dengan adat lokal, membentuk identitas baru yang unik. Akulturasi ini menjadi bukti bahwa kebudayaan di Solok Selatan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan hidup, tumbuh, dan terus bertransformasi.
Menurut Bupati Khairunas, kebudayaan merupakan akar kekuatan daerah yang menjadi fondasi dalam pembangunan Solok Selatan.
“Budaya adalah jati diri. Ia membentuk karakter masyarakat yang berbudaya, religius, dan terbuka terhadap perkembangan zaman. Inilah nilai yang terus kami jaga dalam pembangunan daerah,” ucapnya.
Lebih dari sekadar tontonan, Pawai Kebudayaan menjadi media literasi budaya, terutama bagi generasi muda. Ia berfungsi sebagai ruang belajar terbuka, tempat sejarah, nilai, dan filosofi hidup masyarakat Solok Selatan diwariskan melalui simbol, gerak dan cerita.
Dalam konteks pembangunan daerah, pawai ini juga menjadi pengingat bahwa modernisasi tidak harus menghapus tradisi. Sebaliknya, sejarah dan kebudayaan dapat berjalan seiring dengan kemajuan, menjadi penopang identitas dan kekuatan sosial masyarakat Solok Selatan di masa depan. (*)



