Guru-guru yang sebagian besar datang dari luar kampung terpaksa berjalan kaki sekitar satu jam melewati jalan rusak dan jembatan darurat. Tak jarang, mereka baru tiba di sekolah sekitar pukul 10.00 WIB. Proses belajar mengajar pun terpangkas oleh jarak dan waktu. Anak-anak yang seharusnya belajar dengan ceria, kini ikut menanggung beban bencana.
Ekonomi di Ngalau Gadang Mencekik
Tak hanya itu, tekanan ekonomi kian mencekik. Harga gas elpiji 3 kilogram melonjak hingga Rp35 ribu per tabung. Komoditas andalan warga seperti kulit manis terpaksa dijual murah karena mahalnya biaya angkut. Sekitar 20 unit mobil milik warga hingga kini terkurung di kampung, tak bisa keluar karena akses terputus.
“Rasanya seperti hidup di pulau terasing,” ujar Anggota DPRD Pesisir Selatan Fraksi PAN, Novermal, yang menyaksikan langsung kondisi warga Ngalau Gadang.
Ia menyebut, hampir seluruh aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh akibat keterisolasian yang berkepanjangan.
Di tengah keterbatasan itu, Jasman, tokoh masyarakat Ngalau Gadang, menyampaikan harapan yang sederhana namun mendesak. Ia berharap pemerintah segera hadir dengan langkah nyata.
“Sudah hampir satu setengah bulan kami merasakan kondisi seperti ini. Rumah hanyut, jembatan putus, akses keluar sama sekali tidak ada,” kata Jasman.
Ia memohon agar pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dinas terkait, hingga BNPB pusat segera membangun jembatan yang bisa dilalui kendaraan roda empat, mendatangkan alat berat untuk membersihkan material longsor, serta membangun kembali PLTMH yang hancur.





