Ironisnya, banyak hulu DAS tersebut masih memiliki tutupan hutan yang relatif baik, bahkan berstatus hutan lindung dan konservasi. Fakta ini mematahkan anggapan sederhana bahwa setiap bencana banjir bandang selalu berakar pada pembalakan liar. Pada titik ini, galodo Sumatera Barat menunjukkan wajah baru bencana: bahkan alam yang relatif terjaga pun dapat tumbang ketika dihadapkan pada curah hujan ekstrim akibat perubahan iklim global.
Namun, refleksi tidak boleh berhenti pada penjelasan sebab. Bencana selalu membawa pertanyaan lanjutan: apa yang harus dilakukan setelahnya? Adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi kata kunci yang tak bisa ditawar. Menjaga tutupan hutan di hulu DAS tetap menjadi keharusan, tetapi itu saja tidak cukup. Upaya mitigasi struktural seperti pembangunan sabo dam, cek dam, serta normalisasi sungai perlu dipercepat untuk mengendalikan aliran material longsoran.
Galodo Tahun 2025 Ajarkan Kita Hidup di Era Ekstrem
Di sisi lain, keberanian untuk menata ulang ruang hidup juga diuji. Permukiman di sempadan sungai adalah titik paling rentan, namun sering kali pula menjadi ruang hidup yang telah ditempati turun-temurun. Relokasi, betapapun berat secara sosial dan emosional, harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi keselamatan jangka panjang, bukan sekadar respons darurat sesaat.
Peringatan dini juga menjadi elemen krusial. Sistem early warning system (EWS), pembaruan informasi cuaca dari BMKG, serta pemantauan rutin kondisi hulu sungai harus menjadi kerja kolektif lintas lembaga. Bencana tidak mengenal sekat administratif; maka mitigasinya pun tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Galodo Sumatera Barat 2025 pada akhirnya mengajarkan satu hal penting: kita sedang hidup di era ekstrem. Hujan bisa turun jauh lebih deras dari yang pernah dicatat, dan tanah bisa runtuh meski hutan masih berdiri. Dalam situasi seperti ini, pilihan kita hanya dua, yaitu terus bersikap reaktif, atau mulai membangun kebijakan dan kesadaran yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Refleksi ini semestinya tidak larut bersama surutnya air sungai. Ia harus tinggal dalam ingatan kolektif, menjadi dasar pengambilan keputusan, agar galodo berikutnya tidak lagi selalu menelan korban, melainkan menemukan masyarakat yang lebih siap dan ruang hidup yang lebih aman.
Oleh:
Prof. Eri Barlian
Pakar Lingkungan UNP





