Sumbar

Sinkhole Situjuah Batua Jadi Sorotan, Jangan Terjebak Mitos

13
×

Sinkhole Situjuah Batua Jadi Sorotan, Jangan Terjebak Mitos

Sebarkan artikel ini
Sinkhole

Masih Dilakukan Kajian Terhadap Sinkhole

Dari sisi keamanan fisik, pemerintah juga menetapkan batas aman bagi warga. Untuk sementara, jarak minimal 50 meter dari bibir lubang harus dipatuhi, mengingat kondisi tanah di sekitar lokasi masih labil dan berpotensi mengalami amblasan lanjutan.

Secara kimia, hasil perhitungan cepat menunjukkan bahwa kandungan total zat terlarut (TDS) dan besi (Fe) masih tergolong aman. Namun, tingginya kandungan bakteri e-Coli membuat air tersebut tidak layak dikonsumsi tanpa proses pengolahan. Jika terpaksa digunakan, air harus dimasak terlebih dahulu.

Kajian lanjutan saat ini masih dilakukan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar bersama Badan Geologi. Hasil kajian komprehensif tersebut nantinya akan menjadi dasar rekomendasi teknis bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah pengamanan dan pemanfaatan kawasan.

Baca Juga  Pemko Bukittinggi Kembali Raih Penghargaan Nasional

Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi, menyampaikan bahwa Badan Geologi telah melakukan studi lapangan selama beberapa hari terakhir. Namun, untuk memastikan penyebab amblasan secara menyeluruh, masih dibutuhkan peralatan tambahan serta dukungan logistik guna menunjang kajian ilmiah yang lebih detail.

Sinkhole tersebut diketahui muncul secara tiba-tiba pada Minggu (4/1/2026) siang di lahan persawahan milik warga bernama Adrolmios (61 tahun). Kejadian itu diawali suara gemuruh menyerupai ledakan sebelum tanah yang telah retak akibat kemarau amblas dan membentuk lubang berisi air dengan kedalaman diperkirakan mencapai 10 meter.

Seiring viralnya kejadian tersebut, lokasi sinkhole berubah menjadi “objek wisata dadakan” yang ramai dikunjungi warga. Tidak sedikit pengunjung yang membawa pulang air dari lubang tersebut karena tergiur kejernihannya.

Baca Juga  BPK Lakukan Audit Pendahuluan Kepatuhan atas Belanja Daerah Sumbar 2021, Gubernur Sebut Begini

Fenomena ini mendapat perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar. Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, mengingatkan agar fenomena tersebut tidak menjerumuskan masyarakat pada keyakinan yang menyimpang dan berpotensi mengarah pada kesyirikan.

“Kalau dibiarkan, akan ada saja tukang mimpi dan dukun yang membawa cerita pembenaran atas kesesatan masyarakat awam,” ujar Buya saat dihubungi Haluan, Jumat (9/1/2026), seraya menegaskan bahwa meyakini sesuatu berkhasiat tanpa dasar medis maupun dalil yang sahih merupakan bentuk khurafat yang harus dihentikan.