“Untuk ke depan, penjualan bibit ternak sapi sudah tidak lagi menjadi sumber PAD, karena sapi-sapi tersebut sudah disalurkan kepada kelompok tani,” katanya.
Dinas Pertanian Beberapa Sektor
Meski demikian, Dinas Pertanian masih mengandalkan beberapa sektor yang relatif stabil. Pada 2024 dan 2025, kontribusi PAD terbesar berasal dari Rumah Potong Hewan (RPH). Sektor ini dinilai konsisten memberikan pemasukan bagi daerah.
“RPH tetap menjadi penyumbang retribusi terbesar PAD Dinas Pertanian, sama seperti tahun-tahun sebelumnya,” tutur Yoice.
Sebagai upaya mengoptimalkan penerimaan, Dinas Pertanian sebelumnya juga melihat potensi dari retribusi pelayanan kesehatan hewan. Layanan ini diarahkan menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), sehingga pemeriksaan kesehatan hewan ternak di klinik milik pemerintah dapat dikenakan biaya resmi.
“Pelayanan kesehatan hewan sebenarnya sudah berjalan, hanya saja sebelumnya belum masuk dalam retribusi. Ke depan, ini kami dorong agar bisa berkontribusi pada PAD,” ujarnya.
Dengan berbagai keterbatasan tersebut, penetapan target PAD 2026 sebesar Rp873 juta disebut lebih realistis. Pemerintah berharap, meski target diturunkan, pengelolaan PAD dapat lebih terukur dan berkelanjutan, sembari membuka peluang inovasi sumber pendapatan baru di sektor pertanian dan peternakan Kota Padang.





