Banten, hantaran.Co–Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang kian kuat, pelestarian seni dan budaya daerah menghadapi tantangan serius. Banyak tradisi lokal terancam tergerus zaman, bahkan kehilangan ruang hidup di tengah masyarakatnya sendiri.
Kondisi tersebut menuntut peran aktif kepala daerah dan komunitas budaya untuk tidak sekadar menjaga, tetapi juga mengaktualisasikan warisan budaya agar tetap relevan dan berdaya saing. Upaya itu pula yang menjadi perhatian dalam Anugerah Kebudayaan (AK) PWI Pusat 2026.
Melalui proses seleksi ketat, tiga wali kota dan tujuh bupati berhasil mempertahankan proposal kebudayaan masing-masing di hadapan Dewan Juri AK PWI Pusat, Kamis (9/1/2026). Presentasi dilakukan secara langsung maupun daring.
Baca Juga : PT Semen Padang Dukung Pembangunan 181 Huntara
Tiga kepala daerah terpaksa memaparkan gagasannya secara daring karena tidak dapat meninggalkan daerah. Hal itu disebabkan oleh alasan kemanusiaan dan kedaruratan, seperti pemakaman orang tua, penanganan bencana alam di Sumatra, serta keterikatan pada agenda adat.
Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menyatakan para kepala daerah tersebut dinilai mampu menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerahnya.
“Mereka berhak menerima Trofi Abyakta pada puncak peringatan Hari Pers Nasional 2026 di Banten, 9 Februari 2026 mendatang,” ujar Yusuf Susilo Hartono kepada media Selasa (13/1/2026).
Selain Kepala Daerah, Wartawan Juga Terima Penghargaan
Selain kepala daerah, AK-PWI Pusat 2026 juga memberikan penghargaan kepada tiga wartawan senior beserta komunitas budaya yang mereka bina. Mereka adalah Rahmi Hidayati dengan komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), Seno Joko Suyono dengan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), serta Nenri Nurcahyo dengan komunitas Panji.





