Bukittinggi, hantaran.Co–Pagi itu belum sepenuhnya terang. Udara masih dingin menyelimuti Jorong Pandam Gadang Ranggom Malai (PGRM), Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam.
Laporan : Yursil
Di antara sunyi subuh, sebuah tangisan lirih memecah keheningan. Tangisan seorang bayi lemah, namun cukup kuat untuk memanggil nurani siapa saja yang mendengarnya.
Tangisan itu mengantarkan warga pada sebuah kenyataan pahit seorang bayi perempuan baru lahir ditemukan tergeletak di teras rumah warga, dibungkus rapi di dalam kardus, lengkap dengan susu, kain bedong, dan pakaian bayi. Seolah ditinggalkan dengan harapan, bukan sekadar dibuang.
Bayi mungil itu kemudian dibawa ke Puskesmas Pakan Kamis. Di sanalah, kisah pilu berubah menjadi kisah harapan.
Bayi perempuan tersebut kini terbaring tenang di ruang perawatan.
Baca Juga : Jaksa Masuk Sekolah di SMAN 2 Painan, Pacaran Bisa Berujung Pidana
Parasnya membuat siapa pun yang melihatnya tertegun hidung mancung, dagu panjang, kulit bersih, dan wajah polos yang belum mengenal kerasnya dunia.
“Alhamdulillah, kondisi bayi sangat sehat. Nafasnya bagus, jantungnya normal. Bayi ini sangat cantik,” ujar Kepala Puskesmas Pakan Kamis, drg. Susi Osmond, Kamis (15/1/2026).
Menurut Susi, bayi tiba di Puskesmas sekitar pukul 08.10 WIB. Petugas langsung sigap membersihkan tubuh mungil itu, menimbang berat badan, dan mengukur panjang tubuhnya.
Hasilnya, bayi memiliki berat 3 kilogram dengan panjang 50 sentimeter angka yang menunjukkan ia lahir cukup bulan dan dalam kondisi baik.
Vitamin K dan imunisasi HB0 pun diberikan. Setiap sentuhan tangan petugas terasa begitu hati-hati, seolah bayi itu adalah milik bersama.
Diperkirakan, usia bayi saat ditemukan belum genap 24 jam. Ia belum sempat mengenal dunia, namun sudah harus berpisah dari ibu yang melahirkannya.
Meski demikian, nasib bayi ini tak sepenuhnya kelam. Kehadirannya justru mengundang simpati luas. Banyak masyarakat yang datang, sekadar bertanya, bahkan menyatakan keinginan untuk mengadopsinya.
“Sudah banyak yang berminat untuk mengadopsi bayi ini,” kata Susi.
Sesuai prosedur, bayi akan dirawat selama satu bulan di Puskesmas. Jika dalam waktu tersebut orang tua kandung tidak datang menjemput, maka proses adopsi terbuka akan dilakukan oleh instansi terkait setelah penyelidikan kepolisian selesai.
“Setelah proses hukum rampung, Dinas Sosial akan melakukan open adopsi,” jelasnya.
Polisi Cari Pembuang Bayi
Di Puskesmas Pakan Kamis, bayi cantik itu menjadi penghibur di sela rutinitas petugas. Tangisannya kini bukan lagi pertanda kesedihan, melainkan tanda kehidupan. Senyumnya, meski sesaat mampu meluluhkan kelelahan siapa pun yang menjaganya.
Sementara itu, Kapolsek Tilatang Kamang, Iptu Riko Kurniawan, membenarkan penemuan bayi tersebut. Ia menjelaskan bahwa seorang warga yang mengontrak rumah mendengar suara tangisan bayi sekitar pukul 05.30 WIB.
“Saksi keluar rumah dan menemukan bayi sedang menangis di teras,” ujarnya.
Petugas kepolisian yang turun ke lokasi mendapati bayi berada dalam kardus dengan perlengkapan bayi yang cukup lengkap. Hingga kini, penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengungkap siapa yang tega meninggalkan bayi itu.
Di balik kisah penelantaran ini, bayi kecil itu justru menghadirkan pelajaran besar bahwa di tengah keterbatasan dan kesedihan, masih ada cinta, kepedulian, dan harapan yang tumbuh, bahkan dari tangisan seorang bayi. (*)





