AGAM, HANTARAN.Co – Ikatan Keluarga Ampek Angkek Tjanduang (IKAT) Kota Padang mencanangkan Gerakan Masyarakat Adat Dalam Penanggulangan Bencana Salingka Marapi, yang ditandai dengan pemukulan gong oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sumatera Barat, Barlius, di Balai Adat Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Minggu (18/1/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar, staf ahli Bupati Agam, Ketua Pembina ITAP, para wali nagari, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) se-Kecamatan Ampek Angkek dan Canduang, serta niniak mamak.
Baca juga : Dua Atlet Asal Kabupaten Sijunjung Perkuat Tim Indonesia di Ajang ASEAN Para Games Thailand 2025
Ketua ITAP Kota Padang, Marjanis Angku Basa Diateh, menyampaikan bahwa pada kegiatan tersebut dilakukan penanaman sebanyak 1.300 batang bibit pohon sebagai bentuk mitigasi bencana di wilayah lereng Gunung Marapi.
“Sebanyak 1.300 bibit pohon jenis surian, patai, dan bayua ditanam di 10 nagari di Kecamatan Ampek Angkek dan Canduang. Masing-masing nagari memperoleh 130 batang yang ditanam di lokasi yang telah ditentukan,” ujar Marjanis, pensiunan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumbar.
IKAT Kota Padang Canangkan Gerakan Masyarakat
Menurutnya, pencanangan gerakan ini dilatarbelakangi kondisi geografis nagari-nagari di Ampek Angkek dan Canduang yang berada di lereng Gunung Marapi dan rawan bencana alam.
“Karena berada di lereng Gunung Marapi, bencana bisa datang kapan saja tanpa dapat diprediksi. Maka masyarakat harus bersiap dan waspada sejak dini,” katanya.
Untuk itu, IKAT Kota Padang berkolaborasi dengan wali nagari, Ketua KAN, Bamus, serta Kelompok Siaga Bencana (KSB). Keterlibatan niniak mamak dinilai sangat efektif dalam menggerakkan partisipasi anak kemenakan.
“Jika niniak mamak yang mengajak, anak kemenakan akan patuh. Inilah kekuatan adat dalam menjaga alam,” ulasnya.
Marjanis menambahkan, sungai-sungai di kawasan Marapi dulunya dipenuhi pepohonan rindang sehingga mampu meminimalkan risiko banjir dan galodo. Namun kini kondisinya mulai tandus akibat penebangan hutan.
Sebagai bentuk pengabdian kepada kampung halaman, IKAT Kota Padang menginisiasi gerakan ini melalui kolaborasi ranah dan rantau.
Sementara itu, Kepala BPSDM Provinsi Sumbar, Barlius, mengapresiasi gerakan tersebut. Ia menekankan bahwa kearifan lokal dalam menjaga alam telah diwariskan oleh para leluhur Minangkabau.
“Orang tua kita dulu sangat arif. Menebang kayu sesuai kebutuhan dan memilih kayu yang tepat agar alam tidak rusak,” ujarnya.
Menurut Barlius, saat ini eksploitasi hutan banyak dilakukan oleh investor demi keuntungan semata tanpa memikirkan dampak lingkungan. Karena itu, ia berharap gerakan serupa dapat dicontoh oleh nagari-nagari lain di Kabupaten Agam.
Ketua KAN Nagari Lasi, Dr. Jamalul Ihsan Dt. Sati, menyebutkan bahwa Nagari Lasi memiliki potensi bencana galodo karena berada di lereng Gunung Marapi. Beberapa waktu lalu, bencana galodo mengakibatkan sekitar 1,5 hektare sawah rusak.
“Untuk meminimalkan bencana, kami telah menetapkan aturan nagari atau buek arek yang memuat 15 kesepakatan,” jelasnya.
Salah satu kesepakatan tersebut adalah kewajiban bagi setiap pasangan yang menikah untuk menanam dua batang pohon. Bahkan, KAN Lasi telah mampu menyediakan bibit pohon secara mandiri.
Ia berharap gerakan masyarakat adat dalam penanggulangan bencana salingka Marapi dapat terus digalakkan secara berkelanjutan oleh seluruh pihak, baik di ranah maupun di rantau.(h/yrs)





