PADANG, HANTARAN.Co – Setidaknya dua kecamatan di Kota Padang yaitu Pauh dan Kuranji mengalami krisis air bersih, dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini terjadi akibat rusaknya bendungan Gunung Nago, irigasi tidak mengalir dan mengeringnya sumur warga pascabencana banjir yang mulai terjadi pada 27 November 2025 lalu. Selain itu hujan yang tidak lagi turun dalam sepekan terakhir juga membuat kekeringan semakin nyata.
Setiap hari masyarakat menunggu bantuan air datang, meluangkan waktu menampung air untuk kebutuhan sehari-hari. Ada yang membawa ember kecil, menengah, box kontainer hingga toren tiap kali bantuan truk air menepi di pemukiman mereka.
Salah seorang warga yang juga pimpinan rumah tahfidz di daerah Durian Taruang, Tia mengaku kondisi ini mulai menyulitkan masyarakat untuk beraktivitas.
Baca juga : Pemerintah Perluas Sekolah Rakyat, Mensos: Tambah 100 Sekolah per Tahun
“Kami mulai kekeringan dan berebut air. Ini kemungkinan karena bendungan di gunung nago rusak, irigasi tidak mengalir lagi, jadi dampaknya air resapan ke sumur-sumur warga sudah kering. Kebutuhan air kami hanya mengandalkan bantuan dari PMI,” ujarnya, Sabtu (17/1/26).
Sawah dan Perikanan Tidak Bisa Diolah
Tidak hanya kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, krisis air inj jhga berdampak pada pendapatan warga.
“Sawah-sawah dan perikanan tidak bisa diolah,” ucapnya.
Ia berharap pemerintah memberikan solusi lebih pasti terhadap kondisi ini.
“Kami butuh bantuan dan solusi. Bantuan air hanya untuk kebutuhan harian, sementara sawah dan kolam perikanan belum ada solusi,” ujarnya.
Sementara itu dari pantauan, BPBD Kota Padang, para relawan, PMI juga terus melakukan pendistribusian air bersih ke pemukiman warga yang terdampak kekeringan.
Satu unit tangki dialokasikan untuk mengisi air bersih bagi lebih kurang 100 kepala keluarga (KK) di daerah itu.
BPBD Kota Padang juga terlihat segera menindaklanjuti laporan warga yang membutuhkan air bersih untuk kebutuhan harian. (h/yes)





