Padang, hantaran.Co–Pemerintah pusat menargetkan pertumbuhan ekonomi Smatera Barat (Sumbar) meningkat dari 5,7 persen pada 2026 menjadi 7,3 persen pada 2029. Namun, target tersebut dinilai mustahil terwujud apabila sejumlah persoalan mendasar, seperti ketersediaan infrastruktur, tidak segera dibenahi. Filantropi bisa menjadi salah satu untuk menggenjot perekonomian Sumbar.
Pakar Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Endrizal Ridwan melihat ambisi mendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar melampaui 7 persen pada 2029 tidak akan realistis jika hanya mengandalkan sektor non-tradisional padat modal, seperti data center dan energi terbarukan.
Baca Juga : 6 Pemain Asing Baru Semen Padang FC Ikut 2 Tur Tandang
Di tengah kondisi UMKM yang tertekan oleh kontraksi kredit dan melemahnya daya beli, pemerintah daerah (pemda) mestinya memperkuat fondasi ekonomi melalui pembangunan infrastruktur dan optimalisasi potensi filantropi masyarakat, khususnya diaspora Minangkabau.
Endrizal menilai, struktur ekonomi Sumbar saat ini belum cukup kuat untuk melonjak cepat dari kisaran pertumbuhan 4–5 persen menuju 7 persen dalam waktu tiga tahun. Apalagi, Sumbar merupakan daerah rawan bencana yang hingga kini masih berada dalam fase pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang melanda pada akhir 2025 lalu.
“Secara struktur ekonomi, sektor-sektor non-tradisional seperti data center itu sangat capital intensive. Dampaknya ke penyerapan tenaga kerja dan daya beli masyarakat relatif terbatas, sementara tulang punggung ekonomi Sumbar justru UMKM yang sekarang sedang mengalami tekanan,” kata Endrizal, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, jika pemda menargetkan pertumbuhan ekonomi di atas 4–5 persen pada 2026 dan meningkat hingga 7 persen pada 2028 atau 2029, maka belanja pemerintah harus diarahkan secara fokus pada pembangunan infrastruktur, terutama yang memperkuat konektivitas antarwilayah.






