Posisi Sumbar yang rawan bencana membuat pembangunan infrastruktur tidak bisa ditawar. Infrastruktur yang baik bukan hanya mendorong pertumbuhan, tetapi juga mempercepat pemulihan ekonomi setiap kali terjadi bencana.
“Sumbar ini daerah rawan bencana. Kalau APBD yang kecil itu habis hanya untuk penanganan bencana, ekonomi bisa kolaps. Oleh karena itu, APBD harus difokuskan untuk pembangunan dan infrastruktur yang memperlancar konektivitas dan aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Filantropi Potensi Besar
Selain infrastruktur, Endrizal menilai filantropi masyarakat dan perantau Minangkabau merupakan potensi besar yang belum dikelola secara sistematis oleh pemda. Berdasarkan sejumlah kajian, banyak perantau enggan berinvestasi di Sumbar karena tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI) dinilai lebih rendah dibanding daerah lain.
“Banyak perantau sudah punya pengalaman investasi di Sumbar dengan motif profit, tapi kebanyakan gagal. Itu membuat mereka kapok. Namun berbeda ceritanya jika yang diminta adalah bantuan sosial atau filantropi, misalnya untuk pengentasan kemiskinan atau korban bencana,” kata Endrizal.
Ia mencontohkan, dalam beberapa kasus, bantuan dari perantau Minangkabau dapat terkumpul hingga miliaran rupiah hanya dalam hitungan hari, seperti yang dilakukan Ferry Irwandi dalam membantu korban banjir bandang di sejumlah daerah.
Oleh sebab itu, ia mendorong pemda membentuk unit khusus yang mengkoordinasikan filantropi berbasis nagari, sehingga dana dari perantau dapat terarah dan berkelanjutan. Dengan adanya unit khusus filantropi akan mudah melakukan pengelolaan.
“Pemda mesti mengkapitalisasi semangat filantropi ini. Harus ada unit resmi yang mengkoordinir, baik dari masyarakat di kampung maupun dari diaspora Minangkabau. Pemerintah cukup memberi insentif, sementara dananya dari perantau, bukan dari APBD,” ucapnya.
Endrizal menilai, strategi tersebut akan membuat struktur ekonomi Sumbar lebih tahan guncangan (resilience) terhadap bencana. Dengan adanya jaminan sosial berbasis kultural, pertumbuhan ekonomi tidak selalu terkoreksi setiap kali terjadi anomali cuaca.






