Tidak bisa dipungkiri bahwa di tengah situasi dan kondisi dunia yang penuh kecamuk seperti sekarang, kebanyakan orang cenderung lebih berpikir untuk bertahan hidup dan melupakan banyak hal-hal lain yang tidak dianggap penting. Salah satu imbasnya adalah bagaimana manusia memperlakukan alam lingkungannya, di mana ini dipandang lebih sebagai sumber pemasukan yang bisa diekplorasi. Maka sampailah kita pada salah satu kondisi yang menjadi kulminasinya beberapa lalu: bencana hidrometeorologis yang menerjang tiga provinsi sekaligus di Sumatera.
Tidak main-main, bencana yang datang dalam bentuk banjir, longsor, dan galodo tersebut menelan korban lebih dari seribu jiwa dengan kerugian material yang jauh lebih besar lagi. Banyak yang bilang bahwa bencana tersebut “hanya” akibat faktor cuaca semata dalam bentuk kelebihan curah hujan. Melupakan bahwa justru sangat lebih mungkin keserakahan manusia mengeksploitasi kekayaan alam berupa hutan yang menyebabkan menurunnya kemampuan lingkungan dalam menangkal bencana hidrometeorologis tersebut.
Baca Juga : Infrastruktur dan Filantropi Bisa Jadi Kunci Pertumbuhan Perekonomian Sumbar
Di tengah-tengah kondisi yang digambarkan di atas, terselip suatu kekhawatiran yang mungkin tidak semua orang menyadarinya. Dengan semakin luasnya deforestasi dan pengalihan lahan hutan menjadi kawasan non-hutan seperti perkebunan sawit, perkebunan karet, area persawahan, atau bahkan pemukiman, banyak sumber daya hayati alami yang hilang. Salah satunya adalah beragam jenis anggrek alam.
Tumbuhan berpembuluh dari keluarga Orchidaceae ini kebanyakan hidup sebagai tumbuhan epifit yang menumpang hidup pada pohon-pohon besar. Berbeda dengan tumbuhan benalu yang menghisap makanan dari setiap tumbuhan inang yang ditumpanginya, anggrek hidup dengan menyerap unsur-unsur hara yang dibuang oleh tumbuhan inangnya melalui guguran daun, pelapukan kulit batang, dan lain sebagainya.
Indonesia Surga Penikmat Anggrek
Sebagai negara tropis, Indonesia adalah surganya bagi penikmat anggrek spesies yang hidup secara alami di alam liar. Mulai dari anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) yang memiliki kelopak bunga putih berbentuk bulat seperti bulan, anggrek Hartinah (Cymbidium hartinahianum), beragam anggrek sepatu dari marga Paphiopedilum, sampai ke jenis-jenis anggrek tanah dari marga Spathoglottis.
Indonesia diperkirakan memiliki antara 5000-6000 jenis anggrek alam yang tumbuh liar di hutan atau berbagai wilayah bervegetasi lainnya. Keberadaan jenis-jenis anggrek alam tersebut memang sangat bergantung pada keberadaan hutan dan vegetasi berkayu lainnya tersebut, bukan hanya sebagai inang tempat mereka tumbuh menempel, tapi juga untuk menyediakan unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhannya.
Lingkungan hutan alami pun menyediakan iklim mikro yang bahkan pada jenis-jenis anggrek tertentu sulit untuk ditiru pada kondisi artifisial seperti nursery, rumah kaca, atau tempat perbiakan buatan lainnya. Apalagi kebun sawit. Kondisi yang krusial untuk menjamin biji anggrek yang berukuran mikro untuk dapat berkecambah dengan baik, sehingga siklus kehidupannya dapat berkesinambungan.
Pada intinya, dengan tingkat ketergantungan (simbiosis) yang sedemikian rupa antara anggrek dengan inangnya yang berupa pepohonan, maka kerusakan yang terjadi pada satu komponen juga berarti untuk komponen yang lain. Dengan pemahaman ini, mari melihat kenyataan yang baru saja terjadi di negara kita.
Setelah bencana hidrometeorologis yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, berturut-turut kita saksikan bencana yang sama melanda wilayah-wilayah di Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, sampai ke Papua. Tentunya selain cuaca, kondisi alam yang tidak lagi optimal adalah penyebab beruntunnya bencana tersebut. Dapat dimaknai bahwa dengan meratanya kejadian bencana hidrometeorologis tersebut di sebagian besar wilayah Indonesia, hutan tropis yang menjadi salah satu penciri negara ini juga “merata” rusaknya.
Implikasinya terhadap komunitas dan inventaris jenis-jenis anggrek alam tentu saja sangat besar. Seperti yang disampaikan di awal tulisan ini bahwa Indonesia diperkirakan memiliki hampir enam ribu jenis anggrek yang sebagian besarnya bersifat endemik alias hanya ada di Indonesia. Kerusakan hutan akibat penebangan dan konversi lahan secara langsung mengancam keberadaan mereka, termasuk jenis-jenis yang belum sempat dideskripsikan secara ilmiah.
Ditambah lagi dengan pernyataan Presiden Prabowo yang dengan penuh semangat berencana membuka jutaan hektare lahan sawit baru dibarengi presumsi bahwa sawit juga adalah pohon, tentunya akan makin mengancam hutan yang menjadi habitat bagi banyak hidupan liar termasuk anggrek alam. Meskipun banyak habitat buatan yang mungkin dibuat oleh manusia untuk kepentingan pelestarian atau budidaya, tetapi tidak akan pernah dapat menggantikan peran habitat alami.
Anggrek alam mungkin hanyalah fraksi kecil dari kekayaan hayati negara ini yang sangat mungkin hilang akibat kecerobohan kita dalam menjaga lingkungan habitatnya. Kehilangan yang bersifat irreversible (tidak bisa dibalikan ke semula), karena sekali mereka lenyap dari habitatnya tidak ada kemungkinan lagi untuk dapat menemukannya di masa depan. Ancaman kepunahan anggrek alam, bersama-sama dengan beragam hayati lainnya yang hidup bersama di habitat hutan, harus menjadi pertimbangan bagi mereka yang memegang tampuk kekuasaan. Agar bukan saja mereka tetap terus ada di masa depan, tapi juga memastikan lingkungan hidup tetap layak bagi anak cucu kita. (*)
Oleh:
Muhammad Nazri Janra
Departemen Biologi Fakultas MIPA Unand






