PADANG, HANTARAN.Co — Di tengah upaya pemulihan pascabencana banjir bandang, suara air masih belum sepenuhnya mengalir normal ke rumah-rumah warga Kota Padang. Kekeringan yang dirasakan masyarakat memunculkan beragam reaksi, termasuk desakan pencopotan Direktur Perumda Air Minum. Namun Wali Kota Padang, Fadly Amran, menegaskan satu hal: persoalan ini bukan soal mencari kambing hitam, melainkan kerja bersama untuk bangkit.
Penegasan itu disampaikan Fadly Amran saat menghadiri peresmian sekaligus penyerahan kunci Hunian Sementara Sehat dan Layak bagi warga terdampak banjir bandang di Kampung Talang, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Senin (26/1/2026). Dalam suasana empati dan pemulihan, ia mengingatkan bahwa dampak bencana tidak bisa disederhanakan hanya dengan pergantian jabatan.
“Banyak informasi di luar yang menyebut copot ini, copot itu. Perlu saya sampaikan, persoalan ini kita pikul bersama. Walaupun statusnya bukan bencana nasional, penanganannya dilakukan secara nasional,” ujar Fadly Amran.
Baca juga : Rem Blong Diduga Jadi Penyebab Kecelakaan Beruntun di Panyalaian, 5 Orang Meninggal Dunia
Menurutnya, penanganan dampak banjir bandang dan kekeringan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, pemerintah pusat, TNI, Polri, hingga masyarakat harus bergerak seirama. Keterlibatan aparat keamanan sejak awal, kata Fadly, menjadi bukti bahwa penanganan bencana di Kota Padang dilakukan secara terpadu.
Fadly Amran juga memaparkan progres pemulihan layanan Perumda Air Minum Kota Padang yang telah menunjukkan hasil signifikan. Hampir seluruh jalur distribusi air bersih kembali aktif.
“Hari ini 99 persen jalur distribusi PDAM sudah aktif. Sebanyak 12 intake telah pulih. Pembangunan pipa baru sepanjang 800 meter sudah selesai. Sekitar 98 persen rumah sudah kembali dialiri air, walaupun tekanannya belum normal,” jelasnya.
Copot Dirut PDAM Bukan Jawaban
Tekanan air yang belum optimal, lanjut Fadly, disebabkan kondisi hulu yang masih terdampak. Longsor dan penurunan debit air pascabanjir bandang November 2025 membuat sejumlah sungai, danau, serta mata air sebagai sumber baku air belum sepenuhnya pulih.
Ia menegaskan, dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh sistem PDAM. Sumur-sumur warga pun ikut mengering akibat rusaknya jaringan irigasi dan perubahan alur air.
“Kondisi ini tidak hanya dialami PDAM. Sumur masyarakat juga kering karena saluran irigasi rusak akibat banjir bandang,” ujarnya.
Sebagai langkah jangka menengah, Pemerintah Kota Padang menyiapkan pemasangan ratusan pompa air, perbaikan saluran irigasi, rehabilitasi bendungan, serta pembangunan sumur bor di titik-titik rawan kekeringan. Sementara untuk jangka pendek, suplai air bersih dari intake PDAM terus dilakukan ke wilayah terdampak.
“Langkah ini kita lakukan agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi sampai kondisi benar-benar pulih,” kata Fadly Amran.
Usai kegiatan penyerahan hunian sementara, Wali Kota Padang itu meninjau pengerukan sedimen di kawasan Bendungan Gunung Nago, Kecamatan Pauh. Bendungan yang mengalami pendangkalan akibat bencana hidrometeorologi tersebut menjadi salah satu kunci pemulihan pasokan air bagi warga dan lahan pertanian.
“Kita ingin persoalan kekeringan ini segera teratasi. Karena itu, pengerjaan tanggap darurat kita lakukan bersama pemerintah provinsi dan balai terkait, agar distribusi air kembali normal, sawah-sawah masyarakat terairi, dan sumur-sumur warga dapat terisi kembali,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan pascabencana, Fadly Amran berharap masyarakat melihat persoalan kekeringan secara utuh. Bukan sekadar mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi bagaimana semua pihak dapat bergandengan tangan agar air kembali mengalir dan kehidupan warga Padang pulih sepenuhnya. (*)






