PESISIR SELATAN, HANTARAN.Co — Rumah kayu itu berdiri sunyi di Kampung Anakan, Nagari Koto Nan Duo IV Koto Hilie, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan. Dari kejauhan, bangunan itu nyaris tak berbeda dengan puing masa lalu, tampak kusam, rapuh, dan seolah tinggal menunggu waktu untuk roboh.
Tak ada terlihat stiker atau plang bantuan sosial di depannya. Tak ada tanda pernah disentuh program rehabilitasi rumah. Yang ada hanya dinding menghitam, atap seng bocor, dan kesunyian yang mengendap lama.
Namun ketika didekati, rumah itu seakan berbicara lantang. Ia menyuarakan kemiskinan yang dibiarkan berlarut-larut, dan tentang kehadiran negara yang kian terasa jauh dari warganya sendiri.
Baca juga : Satpol PP Payakumbuh Wanti-Wanti ASN Ngafe di Jam Kerja
Di rumah itulah M. Yusak (83) menjalani sisa hidupnya. Tubuhnya kurus, punggungnya membungkuk, dan langkahnya tak lagi stabil. Usia telah merampas hampir seluruh tenaganya, namun tidak ingatan dan kesadarannya. Ia masih mengingat masa ketika hidup menawarkan harapan, sebelum perlahan runtuh tanpa pernah benar-benar ditopang kembali.
Saat ditanya bagaimana keluarganya memenuhi kebutuhan air bersih, Yusak terdiam cukup lama. Ia menarik napas, menunduk, lalu berkata lirih,
“Kalau hujan, kami tampung air. Kalau tidak hujan, kami tunggu hujan dulu.”
Jawaban itu terdengar sederhana, nyaris polos. Namun di baliknya tersimpan pertanyaan besar: di mana peran pemerintah ketika warganya harus menggantungkan kebutuhan paling dasar pada cuaca?
Di tengah gencarnya program pembangunan dan narasi kesejahteraan masyarakat, keluarga Yusak masih hidup tanpa akses air bersih yang layak. Air bukan lagi hak dasar, melainkan nasib yang sepenuhnya bergantung pada langit.
Menunggu Hujan, Menunggu Harapan Kisah Pilu
Yusak lahir pada 1 Juli 1942. Ingatannya masih utuh, termasuk tentang masa ketika ia memilih merantau demi hidup yang lebih baik. Harapan itu tak pernah benar-benar sampai. Penyakit dan usia memaksanya pulang ke kampung halaman dengan tangan kosong. Sejak itu, hidup terasa berjalan di tempat. Ia bertahan tanpa pegangan, menua tanpa perlindungan.
Di salah satu ruangan rumah, beberapa mesin jahit tua berjajar rapi namun tak bergerak. Catnya mengelupas, besinya berkarat, benang-benang kusut menggantung tanpa arah. Mesin-mesin itu menjadi saksi hidup dan upaya terakhir keluarga ini untuk terus mandiri.






