BeritaFeature

Menunggu Hujan, Menunggu Harapan: Kisah Pilu Keluarga Yusak di Pesisir Selatan

4
×

Menunggu Hujan, Menunggu Harapan: Kisah Pilu Keluarga Yusak di Pesisir Selatan

Sebarkan artikel ini
Hujan
Menunggu Hujan, Menunggu Harapan: Kisah Pilu Keluarga Yusak di Pesisir Selatan. ist

“Dulu kami menjahit. Dapat sedikit-sedikit untuk makan,” ujar Yusak dengan nada lirih.

Kini, mesin-mesin itu hanya diam. Tak ada pendampingan usaha. Tak ada program pemberdayaan lanjutan. Usaha kecil yang pernah menjadi tumpuan hidup itu mati perlahan, seiring usia pemiliknya yang kian renta.

Bagian rumah yang paling menyayat hati berada di belakang. Sebuah kamar kecil, sempit, lembap, dan hampir tak pernah tersentuh cahaya. Di atas dipan kayu sederhana, Siti Anyar (73), istri Yusak, terbaring tak berdaya. Ia telah lama sakit dan tak mampu bangun.

“Istri saya sudah lama sakit. Tak bisa bangun lagi,” ucap Yusak, matanya berkaca-kaca.

Hari-hari Siti Anyar dihabiskan di kamar itu. Makan di sana. Buang hajat di sana. Tidur di sana. Tanpa kasur layak. Tanpa peralatan medis. Tanpa kunjungan rutin layanan kesehatan. Yang menemani hanya kasur tipis, kain lusuh, dan kipas angin tua yang berputar pelan, seolah-olah ikut kelelahan.

“Saya rawat semampu saya. Kalau bukan saya, siapa lagi?” tuturnya.

Pertanyaan itu sederhana, namun seharusnya menggugah nurani pejabat daerah. Sampai kapan seorang lansia renta harus menjadi perawat tunggal bagi pasangan yang sakit parah, tanpa dukungan sistem kesehatan yang memadai?

Rumah itu juga dihuni Nofriandi YS (40), anak mereka. Secara fisik tampak dewasa, namun ia memiliki kelainan mental. Ia tak mampu bekerja mandiri dan tak sanggup menopang keluarga. Dalam rumah ini, tak ada yang benar-benar kuat. Semua saling bergantung pada tubuh yang sama-sama rapuh.