Di Kota Solok, UHC bukan hanya jargon dalam dokumen perencanaan. Ia hadir dalam antrean pagi di puskesmas, dalam ruang rawat inap yang menerima pasien tanpa tanya kemampuan finansial, serta dalam doa-doa keluarga yang berharap kesembuhan tanpa dibayangi kecemasan biaya.
Predikat Madya, menurut Wali Kota, justru menjadi pengingat bahwa perjalanan belum selesai. Pemerintah Kota Solok berkomitmen untuk terus memperkuat fasilitas layanan, meningkatkan kualitas pelayanan tenaga kesehatan, serta memperluas dan menjaga keberlanjutan kepesertaan jaminan kesehatan.
“Kami tidak ingin berhenti pada penghargaan. Target kami sederhana namun substansial: setiap warga merasa aman ketika sakit, karena negara dan pemerintah daerah hadir di sisinya,” ucap Ramadhani.
Dengan penghargaan UHC Awards 2026 ini, Kota Solok menegaskan arah kebijakannya, pembangunan yang berpihak pada manusia. Sebab, di balik setiap statistik kesehatan, ada wajah-wajah warga yang ingin tetap produktif, keluarga yang berharap hidup lebih layak, dan kota yang ingin tumbuh dengan warganya dalam keadaan sehat.
Di sanalah makna sesungguhnya dari sebuah penghargaan, bukan pada plakat yang dibawa pulang, melainkan pada rasa percaya bahwa kesehatan memang hak semua, tanpa kecuali. (h/ndi)






