Opini

Pertumbuhan Ekonomi Sumbar yang Rapuh

3
×

Pertumbuhan Ekonomi Sumbar yang Rapuh

Sebarkan artikel ini
Ekonomi

Sayangnya, kebijakan sering bergerak setelah kerusakan terjadi. Pembangunan baru disadari rapuh ketika bencana datang. Di titik inilah bencana tidak hanya menjadi peristiwa alam. Ia berubah menjadi cermin kelemahan tata kelola ekonomi daerah.

Masalah lain tersembunyi dalam distribusi pertumbuhan. Pertumbuhan terkonsentrasi di kota-kota utama. Daerah pinggiran tertinggal dalam infrastruktur dan pendidikan. Ketimpangan ini membatasi dampak kesejahteraan secara luas.

Fluktuasi harga pangan memperparah tekanan rumah tangga miskin. Harga beras, cabai, bawang, dan daging ayam ras bergerak cepat, sementara pendapatan petani stagnan. Petani justru sering menjadi korban pertama volatilitas. Sektor pertanian berubah menjadi sumber instabilitas.

Dalam kondisi seperti ini, angka makro sering menipu. Statistik tumbuh, tetapi kualitas hidup stagnan. Pertumbuhan tidak otomatis berarti kemajuan. Di sinilah perbedaan antara growth (pertumbuhan) dan resilience (ketahanan) menjadi nyata.

Di sisi lain, ekonomi Sumatera Barat menghadapi dilema struktural. Ia tumbuh, tetapi belum tangguh. Ia berkembang, tetapi belum merata. Ia bergerak, tetapi mudah tergelincir saat krisis datang.

Pengalaman banyak daerah menunjukkan pola yang sama. Pertumbuhan tanpa fondasi cepat runtuh saat guncangan muncul. Bencana, pelemahan daya beli, dan tekanan fiskal saling memperkuat. Tanpa koreksi arah, risiko stagnasi membesar.

Oleh karena itu, perdebatan tidak boleh berhenti pada angka. Yang lebih penting adalah kualitas pertumbuhan. Apakah ia berkelanjutan dan inklusif. Apakah ia memperkuat daya tahan ekonomi daerah.

Agenda Ekonomi Perlu Bergeser

Agenda ekonomi Sumatera Barat perlu bergeser dari mengejar angka ke membangun ketahanan. Pencegahan bencana harus menjadi kebijakan ekonomi, bukan sekadar urusan teknis. Lingkungan adalah aset produktif yang menentukan keberlanjutan. Investasi pada perlindungan hulu sungai menjadi kebutuhan mendesak.

Transformasi pertanian juga harus dipercepat. Teknologi, hilirisasi, dan perbaikan rantai pasok perlu diperluas. Petani harus naik kelas dari produsen bahan mentah menjadi pelaku industri. Sektor primer harus menjadi penyangga stabilitas, bukan sumber kerentanan.

Diversifikasi ekonomi menjadi kunci berikutnya. UMKM digital, industri kreatif, dan jasa modern harus diperkuat. Struktur ekonomi tidak boleh stagnan pada sektor berproduktivitas rendah. Sumber pertumbuhan harus diperbanyak dan disebar merata.

Sumatera Barat hari ini memang tumbuh. Namun, pertumbuhan itu belum cukup kuat menghadapi krisis. Tantangan sejati bukan mempertahankan angka tapi membangun ekonomi Sumatera Barat yang tangguh dan berkelanjutan. Semoga. (*)

Oleh:

Yuni Candra

Dosen FEB Universitas Tamansiswa Padang