Berita

Penanganan Darurat Sektor Pertanian Melalui Alih Komoditas

2
×

Penanganan Darurat Sektor Pertanian Melalui Alih Komoditas

Sebarkan artikel ini
Alih

Padang, hantaran.Co–Banjir bandang yang menerjang kawasan Batu Busuak Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, tak hanya membekaskan duka dalam bagi warga dan tempat tinggalnya. Mata pencarian pun turut mengancam keberlangsungan mereka ke depannya.

Kawasan Batu Busuk yang dulunya dialiri air yang jernih dan bersih, telah menjadi penopang terhadap produktivitas pertanian yang sebagian besar menjadi sumber ekonomi masyarakatnya.

Baca Juga : Keraguan Warga Meninggalkan Batu Busuk

Malang tak dapat ditolak, lahan produktif yang luasnya sekitar 25 hektare itu – yang semula merupakan lumbung padi – kini menguning bukan lagi karena tumbuhnya padi, melainkan karena tutupan batu dan pasir.

Pemko Padang oleh Dinas Pertanian menyebutkan bahwa kondisi ini tidak hanya melumpuhkan aktivitas pertanian. Sebagaimana yang dikatakan Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani bahwa kondisi ini tentunya juga membuat para petani terjerat kesulitan ekonomi akibat hilangnya mata pencarian di tengah beban utang modal tanam yang belum terlunasi.

“Menanggapi krisis ini, kita mulai menyalurkan bantuan stimulan bagi kelompok tani yang terdampak puso atau gagal panen total ini,” katanya kepada Haluan, beberapa hari lalu.

Bantuan tersebut, jelas Yoice, difokuskan pada upaya alih komoditas dari tanaman padi ke tanaman hortikultura yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan pascabencana. Hal itu telah dilakukan melalui pendataan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) dan kelompok tani pun menyatakan kesediaan mereka untuk mengubah pola tanam menjadi sayur-sayuran.

“Langkah alih komoditas ini merupakan strategi darurat untuk memastikan lahan warga tetap memiliki nilai ekonomis meskipun sistem irigasi belum pulih sepenuhnya,” ujar Yoice.

Alih Komoditas Sementara

Ia melanjutkan, pihaknya telah mendistribusikan berbagai jenis benih mulai dari cabai, bayam, kangkung, hingga mentimun dan terong, yang dibarengi dengan pemberian pupuk untuk mempercepat masa tanam di lahan yang tersisa.

“Alih komoditas ini menjadi solusi sementara agar lahan tetap produktif meskipun tidak terairi. Mudah-mudahan pada tahun 2026 nanti Kota Padang bisa difasilitasi benih sayuran dan pupuk dari Kementerian Pertanian, sehingga lahan yang tidak mendapatkan air irigasi bisa dimanfaatkan untuk sayuran atau jagung pakan ternak,” jelasnya.

Di sisi lain, sambungnya, perbaikan infrastruktur irigasi yang rusak akibat terjangan banjir terus diupayakan secara paralel oleh Dinas PUPR Kota Padang melalui pengerukan sedimen di titik-titik krusial.

Sementara untuk saluran yang mengalami pendangkalan ringan, para petani didorong melakukan gotong royong secara swadaya agar sisa aliran air tetap bisa mengaliri persawahan yang masih mungkin diselamatkan.

Kepala Dinas Pertanian Kota Padang itu menyebutkan bahwa percepatan perbaikan infrastruktur ini sangat vital untuk menjaga ketahanan ekonomi petani dan stabilitas pangan di Kota Padang di masa mendatang.

“Untuk penanganan darurat memang alih komoditas ini yang bisa kita maksimalkan. Kita berharap kondisi ini segera pulih dan masyarakat kita bisa kembali menanam padi, karena kita sama tahu bahwa sawah telah menjadi kebiasaan dan mata pencarian mereka. Apalagi di kawasan Batu Busuk ini juga salah satu lumbung padi bagi Kota Padang,” katanya mengharapkan.