Padang, hantaran.Co–Bank Indonesia (BI) optimis ekonomi Indonesia pada 2026 akan tetap tumbuh dengan baik meski di tengah sejumlah tantangan internal dan eksternal. Sayangnya, optimisme ini tidak tercermin pada pertumbuhan ekonomi lokal di Sumatera Barat (Sumbar) yang terus mengalami tren perlambatan dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram menilai tren perlambatan ini tak terlepas dari kondisi ekonomi Sumbar yang sangat rentan terdampak bencana alam. Saat ini, menurutnya, Sumbar tengah menghadapi tantangan lokal yang cukup berat.
Baca Juga : PNP Susun Master Plan Infrastruktur Nagari Pangian
“Kondisi ekonomi Sumbar menjadi tantangan kita bersama. Pertumbuhan kita pada 2025 menunjukkan tren menurun, mulai dari 4,5 persen di triwulan I, turun ke 3,9 persen pada triwulan II, dan terakhir menyentuh angka 3,4 persen pada triwulan,” ucap Majid dalam Pertemuan Tahunan BI dan Peluncuran Laporan Perekonomian 2025 di Aula Anggun Nan Tongga, Kantor Perwakilan BI Sumbar, Rabu (28/1/2026).
Majid menjelaskan, secara historis, Sumbar memiliki risiko tinggi terhadap guncangan besar, terutama bencana alam dan sisa dampak pandemi. Jika tidak dimitigasi, hal ini dikhawatirkan meninggalkan dampak struktural jangka panjang yang menghambat laju pertumbuhan ekonomi lokal. “Oleh karenanya, kami akan fokus pada sektor-sektor yang kuat menyerap tenaga kerja, termasuk penguatan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan,” ucapnya.
Majid menyebut, ekonomi Sumbar memang masih mengalami penurunan, namun ia berharap kondisi itu tidak terus berlanjut. Ke depan, menurutnya, seluruh pihak harus bersinergi guna menjaga pertumbuhan ekonomi agar bisa kembali bangkit menuju arah yang sama dengan ekonomi nasional.
Untuk itu, BI akan melakukan upaya pengkajian dengan melibatkan sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Andalas (Unand) dan Universitas Negeri Padang (UNP). Kajian difokuskan kepada dua hal yang diindikasikan memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap keberlangsungan pertumbuhan ekonomi Sumbar.
“Tentunya hasil penelitian ini diharapkan bisa melahirkan usulan rekomendasi untuk bisa bagaimana kita mencari strategi percepatan pertumbuhan yang inklusif, terutama dari sektor-sektor yang kuat menyerap tenaga kerja, termasuk dari UMKM ke depan, ” ujarnya.






